Minggu, 22 September 2024

Entitlement Mentality

Definisi

Dikutip dari Assesment Indonesia, entitlement mentality merupakan suatu sikap psikologis yang dimiliki seseorang di mana ia memandang bahwa ia memiliki hak untuk memperoleh hal-hal yang diinginkan tanpa berusaha keras. Hal ini karena ia memiliki pola pikir bahwa dunia berhutang padanya. Individu dengan entitlement mentality cenderung berekspektasi tinggi yang bahkan tidak realistis untuk mendapatkan berbagai perlakuan istimewa tanpa perlu melakukan usaha atau memperjuangkannya.

Menurut Campbell et al (2004) dalam penelitian Emmanuel Nkomo (2022) dengan judul "Perceived work values, materialism and entitlement mentality among Generation Y students in South Africa", rasa dari hak (entitlement) tersebut merupakan rasa yang meliputi bahwa seseorang berhak memperoleh lebih banyak dan berhak mendapatkan lebih dibanding orang lain.

Adanya perasaan hak ini menyebabkan mereka menganggap diri lebih sehingga merasa harus mendapatkan prioritas dan perlakuan khusus, bahkan tak segan-segan mengabaikan hak orang lain. Perasaan ini mengarah pada narsistik. Hal paling buruk adalah mereka dapat bertindak seolah-olah sebagai korban dan menyalahkan orang lain. Sikap ini mengarah pada playing victim yang juga merupakan masalah psikis.     

Sejarah Penelitian Entitlement Mentality    

Berbagai penelitian terkait entitlement mentality telah dilakukan, dan hampir keseluruhan memiliki dampak buruk terhadap kehidupan sosial. Penelitian pertama dilakukan oleh Sennett (1973) yang mengemukakan bahwa tingkat pendidikan yang tinggi sebagian besar orang Amerika menjadi sumber utama perasaan hak yang besar atas pekerjaan. Konsep ini dikembangkan lebih lanjut oleh Bell (1976) mengenai budaya kapitalis di mana hak diidentifikasi sebagai sikap sentral di antara para pekerja. Lebih lanjut dijelaskan oleh Bell bahwa munculnya ekspektasi yang meningkat dalam masyarakat beradab berubah menjadi revolusi meningkatnya hak.  

Bagaimana Entitlement Mentality terbentuk?

Berbagai faktor menjadi penyebab entitlement mentality. Dikutip dari berbagai sumber, berikut ini faktor-faktor yang menyebabkan entitlement mentality:

1. Pendidikan dan lingkungan keluarga

Orang tua yang terbiasa memanjakan atau memfasilitasi seorang anak tanpa diimbangi dengan mengajarkan bagaimana mengusahakannya akan menjadikan anak memiliki karakter selalu ingin dilayani dan diprioritaskan. Jika hal ini terbawa dalam berbagai lingkungan bahkan hingga dewasa maka individu tersebut akan selalu menuntut seperti apa yang selama ini didapatkan. 

2. Budaya dan media

Budaya instan memperoleh segala sesuatu yang diinginkan menjadikan seseorang enggan berproses dan berusaha. Budaya ini semakin mempengaruhi pikiran setiap orang dengan adanya media yang menyebarkannya, misalnya flexing dengan menghadirkan influencer. Media menjadi alat penyebaran budaya yang cepat, terutama dengan adanya teknologi digital yang saat ini menyentuh seluruh aspek kehidupan. Orang yang melihat budaya instan akan berlomba untuk mengikutinya karena yang tertanam adalah ia memiliki hak seperti yang ia lihat. Orang akan cenderung menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang diinginkannya. 

3. Reinforcement dan penghargaan

Individu yang terbiasa memperoleh penghargaan atau hadiah tanpa dinilai dari kinerja menyebabkannya memiliki entitlement mentality. Mereka berpikir bahwa tanpa berjuang sudah mendapatkan perhatian, prioritas, dan posisi lebih dibanding orang lain.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dilihat bahwa entitlement mentality merupakan gangguan psikis yang dapat memberikan dampak buruk dalam kehidupan sosial. Hal ini karena sikap tersebut menimbulkan persaingan yang tidak adil, melukai perasaan orang lain, pengabaian hak-hak orang lain, munculnya budaya tidak sehat seperti flexing, suap, malas, dan sebagainya. Oleh karena itu sikap entitlement mentality perlu mendapatkan perhatian dari ahli psikologi agar memiliki kehidupan yang berkualitas.