Sabtu, 23 November 2024

Adakalanya

Adakalanya kamu harus memeluk erat sendiri lukamu
Dan diam-diam menangis pilu
Sementara kamu harus membahagiakan jiwa-jiwa di sekitarmu

Adakalanya kamu harus merelakan pergi apa yang pernah menjadi milikmu
Dan dipaksa berdamai dengan kenyataan yang jauh dari harapanmu
Sementara ada banyak pencapaian belum terpenuhi dalam daftarmu inginmu  

Adakalanya kamu merasa bahwa takdir baik tak berpihak padamu
Dan membuatmu ragu dengan langkah-langkahmu
Sementara dadamu semakin merasa sesak dan pilu 

Adakalanya hatimu akan patah
Dan membuatmu kehilangan arah
Sementara sekitarmu mulai membuat dirimu merasakan jengah   

Tak apa
Semua adakalanya itu tak mengapa
Tak apa
Meski saat ini kamu hanya bisa terduduk, terdiam, dan menangis
Tetaplah yakin dengan kehidupan baik yang sedang Dia persiapkan
Ini hanya masalah waktu


Klaten, 23 November 2024

 



Minggu, 22 September 2024

Entitlement Mentality

Definisi

Dikutip dari Assesment Indonesia, entitlement mentality merupakan suatu sikap psikologis yang dimiliki seseorang di mana ia memandang bahwa ia memiliki hak untuk memperoleh hal-hal yang diinginkan tanpa berusaha keras. Hal ini karena ia memiliki pola pikir bahwa dunia berhutang padanya. Individu dengan entitlement mentality cenderung berekspektasi tinggi yang bahkan tidak realistis untuk mendapatkan berbagai perlakuan istimewa tanpa perlu melakukan usaha atau memperjuangkannya.

Menurut Campbell et al (2004) dalam penelitian Emmanuel Nkomo (2022) dengan judul "Perceived work values, materialism and entitlement mentality among Generation Y students in South Africa", rasa dari hak (entitlement) tersebut merupakan rasa yang meliputi bahwa seseorang berhak memperoleh lebih banyak dan berhak mendapatkan lebih dibanding orang lain.

Adanya perasaan hak ini menyebabkan mereka menganggap diri lebih sehingga merasa harus mendapatkan prioritas dan perlakuan khusus, bahkan tak segan-segan mengabaikan hak orang lain. Perasaan ini mengarah pada narsistik. Hal paling buruk adalah mereka dapat bertindak seolah-olah sebagai korban dan menyalahkan orang lain. Sikap ini mengarah pada playing victim yang juga merupakan masalah psikis.     

Sejarah Penelitian Entitlement Mentality    

Berbagai penelitian terkait entitlement mentality telah dilakukan, dan hampir keseluruhan memiliki dampak buruk terhadap kehidupan sosial. Penelitian pertama dilakukan oleh Sennett (1973) yang mengemukakan bahwa tingkat pendidikan yang tinggi sebagian besar orang Amerika menjadi sumber utama perasaan hak yang besar atas pekerjaan. Konsep ini dikembangkan lebih lanjut oleh Bell (1976) mengenai budaya kapitalis di mana hak diidentifikasi sebagai sikap sentral di antara para pekerja. Lebih lanjut dijelaskan oleh Bell bahwa munculnya ekspektasi yang meningkat dalam masyarakat beradab berubah menjadi revolusi meningkatnya hak.  

Bagaimana Entitlement Mentality terbentuk?

Berbagai faktor menjadi penyebab entitlement mentality. Dikutip dari berbagai sumber, berikut ini faktor-faktor yang menyebabkan entitlement mentality:

1. Pendidikan dan lingkungan keluarga

Orang tua yang terbiasa memanjakan atau memfasilitasi seorang anak tanpa diimbangi dengan mengajarkan bagaimana mengusahakannya akan menjadikan anak memiliki karakter selalu ingin dilayani dan diprioritaskan. Jika hal ini terbawa dalam berbagai lingkungan bahkan hingga dewasa maka individu tersebut akan selalu menuntut seperti apa yang selama ini didapatkan. 

2. Budaya dan media

Budaya instan memperoleh segala sesuatu yang diinginkan menjadikan seseorang enggan berproses dan berusaha. Budaya ini semakin mempengaruhi pikiran setiap orang dengan adanya media yang menyebarkannya, misalnya flexing dengan menghadirkan influencer. Media menjadi alat penyebaran budaya yang cepat, terutama dengan adanya teknologi digital yang saat ini menyentuh seluruh aspek kehidupan. Orang yang melihat budaya instan akan berlomba untuk mengikutinya karena yang tertanam adalah ia memiliki hak seperti yang ia lihat. Orang akan cenderung menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang diinginkannya. 

3. Reinforcement dan penghargaan

Individu yang terbiasa memperoleh penghargaan atau hadiah tanpa dinilai dari kinerja menyebabkannya memiliki entitlement mentality. Mereka berpikir bahwa tanpa berjuang sudah mendapatkan perhatian, prioritas, dan posisi lebih dibanding orang lain.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dilihat bahwa entitlement mentality merupakan gangguan psikis yang dapat memberikan dampak buruk dalam kehidupan sosial. Hal ini karena sikap tersebut menimbulkan persaingan yang tidak adil, melukai perasaan orang lain, pengabaian hak-hak orang lain, munculnya budaya tidak sehat seperti flexing, suap, malas, dan sebagainya. Oleh karena itu sikap entitlement mentality perlu mendapatkan perhatian dari ahli psikologi agar memiliki kehidupan yang berkualitas.

 




Kamis, 05 Oktober 2023

FRUGAL LIVING

 Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah "frugal living" kan? Penasaran dong apa itu frugal living. Dikutip dari CNN, frugal living merupakan gaya hidup yang sadar pengeluaran dan fokus pada saving (menabung, investasi, dan sebagainya). Hidup dengan konsep frugal living cenderung mengalokasikan dana yang dimiliki untuk kepentingan yang produktif, minimal tidak membeli barang-barang konsumtif atau yang memiliki nilai ekonomi yang semakin menurun.  

Mengapa frugal living itu penting diterapkan?

Beberapa alasan untuk menerapkan frugal living saat ini adalah:

  1. Merawat barang akan membutuhkan energi, waktu, dan dana yang tidak sedikit. Semakin banyak barang maka semakin besar energi, waktu, dan dana yang dibutuhkan. 
  2. Untuk keadaan darurat, barang-barang yang dibeli sulit untuk diuangkan dan cenderung menurun nilainya dibanding jika berupa tabungan atau aset.
  3. Dalam kondisi bencana atau harus meninggalkan rumah, barang-barang akan sulit dibawa serta. Ini artinya harus siap kehilangan materi atau harta yang tertinggal dalam rumah.
Frugal living juga membantu seseorang untuk lebih fokus pada gaya hidup yang sehat. Mengapa? Karena pikiran dibatasi pada kebutuhan, bukan keinginan. Selain itu juga pengeluaran juga dapat dikontrol sehingga finansial lebih tertata. 

Untuk dapat menerapkan frugal living memang harus mengesampingkan gaya hidup yang hedon dan gengsi. Beberapa tips yang bisa dilakukan untuk melatih gaya hidup frugal living antara lain:

  1. Memahami antara kebutuhan dan keinginan
  2. Merencanakan pos-pos penyimpanan keuangan seperti operasional, tabungan pendidikan anak, dana darurat, deposito, dana pensiun, dan sebagainya sehingga pengaturan dana bisa terarah.
  3. Harus bisa memilah dan memilih barang yang bisa dibeli second atau barang baru. Untuk barang-barang seperti meja, kursi, mobil, dapat 
  4. Memanfaatkan promo saat berbelanja
  5. Mengatur kebutuhan dalam sebulan dan memastikan bahwa pengeluaran lebih kecil daripada pemasukan.      
Dengan keamanan finansial maka secara psikis juga akan lebih stabil. Tingkat kecemasan akan ketidakmampuan finansial dapat ditekan melalui gaya hidup frugal living. Yuk dicoba 😊

Rabu, 04 Oktober 2023

PEOPLE PLEASER

Pernah mendengar istilah "people pleaser"? Istilah ini muncul dan erat kaitannya dengan bidang psikologi. Secara umum, people pleaser diartikan sebagai orang-orang yang selalu ingin menyenangkan orang lain dan berusaha memenuhi ekspektasi orang-orang di sekitarnya, bahkan sampai mengabaikan kepentingan diri sendiri. Ini tentu berdampak buruk dalam kehidupan seseorang karena tidak bisa mengelola mana prioritas dan hal penting yang seharusnya didahulukan. 

Orang-orang yang memiliki sikap people pleaser ini rentan dimanfaatkan karena tidak bisa menolak keinginan dan permintaan orang lain. Hal ini karena people pleaser cenderung tidak enakan, memiliki rasa bersalah yang tinggi, terlalu memperhatikan pendapat orang lain, rasa takut dan cemas jika tidak bisa menyenangkan orang lain, tidak independen, dan sebagainya. Dengan kata lain people pleaser tidak bisa berkata "tidak" atas keinginan orang lain. Hal ini membuat orang-orang people pleaser cenderung diremehkan, dan hanya menjadi alternatif. 

Dilansir dari merdeka.com, people pleaser memiliki beberapa ciri antara lain sulit mengatakan "tidak", terlalu memikirkan pendapat orang lain, merasa bersalah jika tidak bisa memenuhi keinginan orang lain, rendah diri, berusaha memenuhi kebutuhan orang lain dan mengabaikan diri sendiri, selalu meminta maaf, memiliki perasaan khawatir dan cemas jika orang lain tidak menyukainya, serta selalu setuju dengan pendapat orang lain.

Kenapa seseorang memiliki perilaku people pleaser? Masih dilansir dari sumber yang sama, perilaku people pleaser dipicu oleh beberapa alasan, antara lain harga diri yang buruk, merasa insecure, dan memiliki pengalaman masa lalu yang buruk.

People pleaser cenderung bersikap baik kepada siapa saja, berusaha memenuhi keingan orang lain, dan terlihat seperti "angel" di mata orang lain. Di sisi lain, dampak buruk pun dirasakan people pleaser seperti stres dan cemas karena harus selalu memenuhi ekspektasi orang lain, merasa lelah karena orang lain selalu mengambil keuntungan dan memanfaatkan dirinya sementara jika meminta tolong belum tentu orang lain dapat memenuhinya, pribadi tidak dapat berkembang dengan baik karena tidak bisa memprioritaskan diri sendiri (tidak banyak waktu mengurus kepentingan diri sendiri karena terlalu memperhatikan orang lain), juga hidup dalam kepura-puraan demi dapat dianggap baik orang lain.

Menjadi people pleaser melelahkan bukan? Jadi, bagaimana untuk menghindari menjadi people pleaser? Beberapa tips yang bisa dilakukan antara lain:

  1. Memahami bahwa menjadi baik memang wajib, tapi SELALU memenuhi harapan orang lain adalah hal yang tidak mungkin karena setiap orang memiliki kepentingan berbeda. Masih ingat cerita seorang ayah, anak, dan seekor keledai bukan? 
  2. Prioritaskan waktu untuk diri sendiri dan keluarga inti. Mengapa? Karena ketika kita jatuh, maka diri sendiri dan keluarga intilah yang bisa diandalkan. Masih ingat konsep "safety first" kan? Kita tidak akan menjadi kuat dan membantu orang lain sebelum kita sendiri yang kokoh.
  3. Diri sendiri harus punya tujuan dan goal yang jelas bagaimana menjalani hidup. Karena apa? Semakin bertambah usia, kita akan menyadari bahwa orang yang membutuhkan kita adalah anak dan generasi kita. Mereka yang berhak mendapat perhatian prioritas kita. Jika kita mampu mengkonsep tujuan dan goal hidup dengan jelas, maka hidup akan lebih terarah, waktu akan semakin efektif dan efisien, dan psikis dapat lebih sehat.
Itu dia sekelumit mengenai people pleaser. Sangat boleh dan wajib berbuat baik untuk orang lain, tapi ingat kapasitas dan prioritas diri, ya. Agar bisa menjalani hidup dengan sehat secara fisik dan psikis. 




Selasa, 31 Januari 2023

HUMBLE

Apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata humble? Istilah ini kukenal dari seorang sahabat tahun 2014 lalu. Satu kata yang maknanya ternyata jleb. Humble, atau diartikan sebagai rendah hati menjadi bagian dari pilihan hidup. Mengapa? Karena meskipun memiliki banyak keunggulan/kelebihan baik prestasi maupun materi, namun memilih untuk tetap tidak berbangga diri. Ibarat pepatah ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Ia menyadari bahwa semua hanyalah titipan, bagaimanapun suatu saat akan diambil Sang Pemilik, Alloh swt.

Rendah hati ini sangat berbeda dengan rendah diri. Rendah hati lebih menekankan pada sikap yang stay cool, kalem, santai meskipun punya segudang prestasi atau support system yang sangat kompleks. Mereka cenderung menganggap biasa apa yang dimiliki dan tidak merasa dirinya superstar atau lebih dari yang lain.

Orang yang humble juga mampu menempatkan dirinya di lingkungan sekitar. Artinya ia tidak memiliki "ke-aku-an" yang besar, tapi bagaimana apa yang dimilikinya juga mampu memberikan kontribusi untuk orang lain. Ia memegang teguh di mana bumi berpijak di situ langit dijunjung. Di manapun ia akan mawas diri, tidak over react, dan memiliki sense untuk memahami sekitar sebelum bertindak.

Dirangkum dari podcast-nya Irfan Agia, humble dalam istilah psikologi diartikan sebagai "The Art of Humility", di mana orang-orang humble memiliki beberapa karakter.

1. Low focus on themself, artinya jika pada suatu kondisi/keadaan, saat diskusi, saat menghadapi suatu hal seorang yang humble tidak akan memusatkan pada diri sendiri. Ia berusaha untuk memberikan atensi atau fokus (spotlight) pada orang lain terutama di sekitarnya.

2. Memiliki sense of accuratness, di mana orang yang humble secara akurat tidak over atau underestimate accomplishment seseorang atau dirinya sendiri. Jadi seseorang yang humble memahami award-nya seberapa besar, bisa acknowledge tidak hanya dari penghargaan atau advantages (kelebihan) dimiliki, namun juga disadvantages (ketidaksempurnaan), kesalahan, keterbatasan, atau apapun yang bersifat gap. 

Miskonsep bagi sebagian orang adalah bahwa humble atau humility-nya bagus itu bukanlah suatu kekuatan, akan tetapi merupakan suatu weakness, rendahnya self esteem, ketidakberdayaan, merendah, nrimo, atau tidak percaya diri. Justru sebenarnya humble menunjukkan bahwa seseorang itu paham seberapa bagus kualitas kita dan segala batasannya. Orang yang humble akan paham batasan antara recognition dan braging. 

Apa yang membuat seseorang memilih humble? Orang-orang yang humble lebih mudah untuk membangun jaringan dan koneksi dengan frekuensi yang sama, yaitu orang-orang yang humble juga. Humility (humble) dapat membantu extending dan emphaty ke orang lain, sesuai dengan karakternya yaitu low focus of themself di mana mereka mau memberikan perhatian pada orang lain. "Me" mentality tidak akan dimiliki orang humble karena mereka lebih mengacu pada orang lain, mau menerima opini-opini orang lain. 

Hal itu karena orang humble menyadari bahwa mereka punya batasan-batasan dan masih harus banyak  belajar dari siapapun. Ini membuat karakter humble itu menyenangkan sehingga networking cenderung kuat karena membuat nyaman orang-orang di sekitarnya. 

Dari sisi internal, orang humble memiliki self awareness yang tinggi, mereka memahami diri sendiri, sering berdiskusi dengan diri sendiri sehingga orang yang humble bisa mengukur secara akurat mengenai perspektif mereka tentang diri mereka sendiri. Tidak perlu membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain karena menyadari setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. 

Untuk bisa humble, bisa sering-sering mengobrol dengan diri sendiri, banyak membaca buku, banyak melakukan kegiatan yang disuka dan mengeksplore diri sendiri, juga bisa men-challenge diri sendiri untuk upgrade skill, sehingga bisa mengenali diri sendiri baik kelebihan maupun kekurangan. Selain itu belajar untuk mengapresiasi orang lain sehingga tidak melulu fokus pada diri sendiri. Ini menjadikan diri lebih humble bahwa orang lain pun punya banyak kelebihan yang mungkin tidak kita miliki.

Kamis, 08 Desember 2022

NIKMATI SAJA

Mengutip pernyataan Al-Imam Al-Qurthubi bahwa orang yang telah mencapai usia 40 tahun, maka ia telah mengetahui besarnya nikmat yang telah Allah anugerahkan padanya, juga kepada kedua orang tuanya sehingga ia terus mensyukurinya. Tanpa disadari, lebih dari separuh jatah hidup telah dihabiskan mengembara kehidupan. 

Itulah yang akan kualami 2 tahun mendatang. Mencapai usia 38 tahun di masa ini, Alloh telah menunjukkan potongan-potongan itu. Spill, begitulah bahasa gaulnya. Banyak kenikmatan di antara kehilangan, besarnya anugerah di antara ujian hidup, dan juga mencapai titik balik di mana 12 tahun terakhir berjuang keluar dari dasar jurang dan saat ini seperti di puncak Himalaya. 

Kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan kita ke depannya. Yang kupahami adalah, saat ini adalah "ekor" dari masa lalu, dan masa depan tidak lepas dari apa yang dilakukan saat ini.  Sang Pemilik Kehidupan memiliki banyak rencana, dan saya sangat percaya bahwa takdir yang saat ini dijalani adalah cara-Nya menempatkan sesuai peran hamba. Istilah Jawanya, mernahke. Dalam istilah bahasa Indonesia menata. Tuhan menata hamba-Nya di tempat yang sesuai.

Pernahkah kalian merasa bahwa apa yang diimpikan belum bisa tercapai, dan harus menjalani suatu kehidupan yang mungkin berat. Di saat itulah Sang Pencipta sedang memantaskan peranmu dalam episode hidupmu, "mernahke".

Pernahkah kalian mendaftar suatu pekerjaan dan ditolak di manapun? Harus menjadi ibu rumah tangga dengan segudang pekerjaan yang di mata banyak orang tidak menghasilkan uang, di situlah sesungguhnya peranmu sangat penting bagi keluarga, terutama anak-anak. Mereka yang lebih membutuhkan kehadiranmu untuk mengenal dunia. Di saat kamu ingin di rumah saja menikmati kehidupan, akan tetapi harus bekerja mencari nafkah, disitulah peranmu lebih dibutuhkan oleh orang-orang di luar keluargamu. 

Itulah istilah "mernahke". Sudah, nikmati saja peranmu. Tuhan pun tidak mungkin membebani para hamba-Nya di luar kemampuan. Sama halnya dengan pengalamanku ditolak di tempat-tempat pekerjaan yang kuimpikan selama 12 tahun ini. Dijalani saja, karena aku percaya Dia masih "mernahke". Peranku? Menjaga Maori, yang akhirnya cerita ini menjadi novel. Selalu ada peluang, bukan? 


- Maora -

Klaten 8 Desember 2022
Di sepertiga malam terakhir, 02.57 WIB


Kamis, 20 Oktober 2022

Pola Pengasuhan Ibu Milenial

 

“Didiklah anakmu sesuai zamannya, karena anak-anak tidak hidup pada zamanmu”

Begitulah Khalifah ke-4 dalam periode Khulafaur Rasyidin sekaligus menantu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib r.a. berpesan. Julukannya sebagai “Gerbang Pengetahuan” telah menyampaikan pesan tersebut 14 abad yang lalu, dan hingga saat ini masih berlaku. Dinamika zaman menuntut para orang tua, terutama ibu sebagai madrasah pertama seorang anak untuk selalu belajar dan menyesuaikan perkembangan zaman dalam pengasuhannya.

Perempuan dengan kelahiran 1981-1996 atau pada tahun 2022 berusia sekitar 25-40 dikenal sebagai generasi milenial (gen Y) dan umumnya sudah memasuki kehidupan rumah tangga. Ibu milenial menghadapi kenyataan bahwa generasi yang diasuhnya sudah jauh berbeda dengan dirinya saat mendapatkan pengasuhan dari orang tuanya yaitu gen X. Seorang ibu milenial dituntut untuk selalu update dan upgrade mengenai berbagai ilmu untuk mendukung pengasuhan.

Era milenial sangat berbeda dengan sebelumnya. Dalam pengasuhan, ibu milenial harus terlibat dan masuk dalam dunia anak untuk menyelaraskan frekuensi dengan anak. Ibu harus melepaskan beban pikirannya sejenak yang dapat menghambat totalitas interaksi dengan anaknya. Di sisi lain, ibu juga dapat melibatkan anak dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukannya untuk menambah pengalaman anak. Anak dapat memiliki wacana dan wawasan yang luas ketika bersama orang tua. Tidak hanya itu, anak dapat membangun empati dan tanggung jawab dari sikap yang dimiliki orang tua.

Seorang ibu harus mampu membesarkan hati anaknya manakala seorang anak mencurahkan kegelisahan, kekecewaan, luka, sakit hati, dan hal buruk yang menimpanya. Seorang ibu pantang mengucapkan, “Ibu saja dulu bisa saat seperti itu, masak kamu tidak?”. Ingat bahwa seorang anak pun tidak mau dibandingkan, terutama yang mengucapkan adalah orang terdekatnya. Hal yang pantang dilakukan adalah menggurui dan menghakimi karena hal tersebut membuat anak merasa tersudut dan merasa sendirian. Ibu milenial diharapkan dapat duduk, mendengarkan, memberikan ruang bagi anak mengungkapkan segala yang ada di pikirannya, bahkan meluapkan emosinya tanpa memutus adegan tersebut. Dengan hal itu, anak akan merasa nyaman dan lega. Kenyamanan anak terhadap ibu membuatnya dapat terbuka dengan berbagai hal yang dipikirkan, dialami, dikeluhkan, maupun dihadapi langsung.

Keterbukaan anak merupakan kunci dalam mengontrol anak secara tidak langsung. Orang tua, terutama ibu dapat mengetahui sejauh mana dan bagaimana perilaku anak dengan keterbukaan dan komunikasinya. Hal utama yang dilakukan ibu ketika mendengar cerita anak adalah tidak menggurui dan menghakimi. Anak diajak berdiskusi mengenai masalah yang dihadapinya, menelusuri penyebab, menawarkan berbagai solusi serta memberikan gambaran konsekuensi masing-masing solusi, dan akhirnya memastikan anak siap dengan pilihan solusinya.

Keterlibatan, perhatian, dan pendampingan yang diberikan ibu dapat membuat anak yakin bahwa ibu dapat diandalkan dalam melewati masa-masa sulitnya. Kehadiran ibu dalam berbagai kondisi anak meminimalkan anak mencari pelarian di luar rumah terutama aktivitas atau lingkungan negatif. Hal ini karena apa yang anak butuhkan sudah dipenuhi oleh orang tua.

Ibu milenial tidak dapat memaksakan anak untuk menuruti segala keinginan atau perintahnya. Anak-anak dari ibu milenial cenderung kritis, sehingga tidak serta merta selalu menuruti seperti pendidikan yang dilaluinya dulu. Anak-anak cenderung menanyakan alasan kenapa harus berbuat seperti yang ibu perintahkan. Seorang ibu milenial harus mampu menjawab secara logis alasan serta konsekuensi jika tidak melakukannya. Komuniksi menjadi bagian penting dalam pengasuhan karena seorang ibu dan anak dapat membangun bonding tanpa jurang pemisah meskipun ada kalanya keduanya saling memberikan privasi.

Memiliki ibu yang asyik menjadi dambaan setiap anak. Ibu dapat menjadi pendidik, pengayom, sekaligus teman berbagi. Ibu milenial pun harus menyesuaikan dunia anak, termasuk di tengah-tengah gempuran teknologi seperti gadget, handphone dengan berbagai fitur yang menarik, dan pendidikan yang mulai beralih dengan mengkombinasikan offline dan online. Sebagai orang tua, kita tidak bisa melarang anak-anak untuk tidak menggunakannya karena pada kenyataannya saat ini benda-benda tersebut sangat dibutuhkan. Hanya saja ibu harus pandai dalam mengkomunikasikan penggunaan teknologi dengan tepat.

Ibu dapat membangun kesepakatan dengan anak-anaknya dalam penggunaan teknologi. Selain itu, teknologi juga bisa diarahkan untuk yang lebih bermanfaat misalnya dalam mendukung pendidikan dengan mengakses situs-situs yang bermanfaat. Anak juga dibiasakan berdiskusi bersama terhadap hal-hal yang dilihat, dilalui, dirasakan, maupun dihadapi baik ketika bersama orang tua maupun saat bersosialisasi dengan lingkungannya sendiri.

Orang tua juga harus memiliki keahlian dalam menggunakan teknologi lebih baik dari anak. Hal ini untuk mengimbangi anak agar tetap dapat mengasuh dan mendampingi anak. Bahkan seorang anak dapat terasah kemampuan, minat, dan bakatnya di bidang teknologi. Dalam hal ini, orang tua wajib memfasilitasinya karena saat ini tidak bisa menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah formal. Sekolah formal hanya sebagian kecil dari lingkungan anak yang membangun masa depannya. Arahan dan pendampingan penuh dari orang tua, terutama ibu sangat penting di era milenial untuk menyiapkan generasi sesuai zamannya. Sudah banyak bukti bahwa sekolah formal tidak menjamin kesuksesan anak di masa depan.