Jumat, 12 November 2021

AKHIR HAYAT

Kehilangan seorang ibu itu sama halnya dengan kehilangan surga, sedihnya luar biasa. Air mata bisa hampir tiap hari menetes mengingatnya. Di sisi lain, ada obat hati yang menenangkan ketika saya kehilangan seorang ibu yaitu beliau meninggal selepas sholat magrib, masih menggunakan rukuh dan memegang tasbih. Bahagia hati ini mendapati seorang ibu yang sudah bersusah payah membesarkan kami anak-anaknya telah meraih mimpi terbesar dalam hidupnya, husnul khatimah.

Saya saksi hidup ibu saya, bahwa selama hidupnya sholat merupakan kegiatan yang harus diutamakan. Sesibuk apapun harus diletakkan dan harus menyegerakan sholat. Dalam keadaan apapun juga seperti sakit. Selama 16 tahun menahan rasa sakit akibat jantung, ibu pun masih menyempatkan sholat malam. Di saat lututnya sangat nyeri beberapa tahun belakangan ini, tetap menahannya untuk dapat sholat dengan berdiri sempurna. Sabarnya luar biasa. 

Pasca kepergian Bapak, 21 Juli 2021 lalu, ibu baru menjalani sholat di atas tempat tidur. Sakit fisik yang bertahun-tahun, ditambah psikis kehilangan belahan jiwa, membuat beliau semakin drop. Akan tetapi tidak berpengaruh pada penurunan kualitas sholat meski harus tayamum. Thaharah? Ibu sangat-sangat menjaganya, bahkan sangat ragu menggunakan pampers karena kondisinya untuk meminimalisir gerak fisik agar cepat pulih. Setelah dijelaskan oleh kakak kami dan ditenangkan bahwa tidak mengapa menggunakannya, ibu pun bersedia. Akan tetapi tengah malam kami dikejutkan bahwa ibu sudah di kamar mandi, tidak bisa buang air jika menggunakan pampers. Alhasil, kami menawarkan ibu menggunakan pispot. Barulah ibu bisa menyesuaikan.

Semenjak kepergian Bapak, ibu masih sholat di tempat tidur. Pernah sekali mencoba, justru memperparah kondisinya, sehingga beliau kembali sholat di tempat tidur sembari duduk. Ibu paling lama duduk saat waktu sholat malam dan sholat magrib. Sholat malam biasa dikerjakan jam 3, dan seselesainya masih duduk dengan wirid sambil menunggu subuh. Selepas subuh pun masih duduk sambil wirid, zikir, dan membaca Al-Qur'an hingga waktu sholat dhuha. Barulah selepas dhuha sudah bisa beraktivitas duniawi. Sholat magrib pun lama, duduk menunggu sholat isya sembari mengaji dan zikir, kalaupun batal kemudian wudhu atau tayamum lagi dan kembali duduk. Begitulah selama ini.

Tepat 100 hari kepergian Bapak, Ibu pun menyusul. Beberapa hari sebelumnya tidak ada tanda-tanda sakitnya. Ibu lebih banyak tertawa dan becanda. Kakak sekeluarga yang dari Jogja pun sering menengok kami untuk memulihkan harapan hidup Ibu, sehingga sangat kaget beliau pergi dengan sangat cepat. Mungkin rasa rindu ibu lebih besar kepada Bapak...

Rasa nyeri sempat dirasakan Ibu. Kondisi tersebut hal yang biasa, sehingga Ibu selalu stok obat untuk dikonsumsi di bawah lidah. Biasanya kami memberikan waktu ibu untuk tenang, sambil sesekali ditengok. Detik-detik kepergian Ibu itu tidak kusadari. Ibu hanya mengeluh nyeri sehingga saya tawarkan mengolesi minyak sambil konsumsi obat. Ibu hanya bilang, "Aku tak sholat sik ya, Ndhuk (Aku sholat dulu, ya, Ndhuk)". Saya pun memberi waktu ibu untuk sholat, sesekali saya tengok di kamarnya. Saat saya tengok ke sekian kali, Ibu masih duduk sembari menahan nyeri, duduk menghadap kiblat lengkap dengan rukuhnya. Saya tinggal ke depan untuk cek hape, mungkin hanya sekitar 2 menitan, dan kembali lagi menengok. Kali ini ibu sudah baringan, saya panggil dari pintu, tidak ada jawaban atau menoleh seperti biasanya. Saya pun mendekat, cek nadi, semakin melemah dan sempat tidak berdenyut. Saya pun reflek memanggil-manggil Ibu sambil menelpon kakak yang di Jogja. Kakak langsung menelepon bidan, dan tak berapa lama datang karena beberapa blok dari rumah. 

"Pangapunten, Mbak, ibu sudah ndak ada (Maaf, Mbak, Ibu sudah tidak ada)"

Bayangkan, hanya beberapa menit saja. Ibu saya mudah kepergiannya, bahkan masih dalam keadaan beribadah. Saya bersyukur Alloh telah mengabulkan doa beliau untuk ditetapkan pada Agama Islam dan diakhirkan dengan husnul khatimah. Tinggal kami, anak-anaknya mengikuti jejaknya. Banyak-banyak berusaha dan berdoa untuk bisa sampai husnul khatimah.

Sabtu, 06 November 2021

SECUKUPNYA, SEKEDARNYA

Salah satu pendidikan yang diwariskan orang tua pada saya adalah hidup itu harus nerimo ing pandum, jangan serakah. Istilah Jawa itu sangat lekat dalam kehidupan kami, terutama yang terkait dengan materi. Bapak dan Ibu hidup prihatin meski memiliki materi yang lebih dari cukup, karena menyadari bahwa kelak harta yang diperoleh dan digunakan akan dihisab, sehingga orang tua memiliki mindset menggunakan harta untuk pendidikan dan sosial, untuk kehidupan sehari-hari itu secukupnya, sekedarnya, sewajarnya.

Hidup Bapak dan Ibu saya dari kecil prihatin dan berjuang. Seiring waktu, perekonomian pun membaik sehingga materi bukanlah masalah bagi orang tua. Akan tetapi karena mindsetnya "secukupnya, sekedarnya" maka tidak mengambil banyak dari apa yang sudah Alloh berikan. Keseharian tetap berusaha mengontrol penggunaan dana agar tidak digunakan sia-sia, selebihnya ditabung. Selain itu, orang tua selalu berpesan bahwa tidak perlu berharap warisan, materi, atau apapun dari orang lain. Hal ini menjadikan kami selalu berusaha memenuhi kebutuhan sendiri tanpa meminta sama orang lain. "Cukup minta sama Alloh", begitu kata Ibu.

Hingga saat ini, pendidikan itu tetap terpatri. Kalau bisa memberi, dan usahakan tidak meminta pada orang lain. Sesusah apapun, simpan rasa susah dan tetap bersyukur. Di dunia ini, kita mengambil secukupnya dan sekedarnya saja.

 

Senin, 24 Agustus 2020

BLUE LAGOON JOGJA ERA NEW NORMAL

Cultural landscape kawasan Sleman berupa geografis yang subur dan terletak di lereng gunung Merapi menyediakan berbagai keindahan panorama alam yang layak untuk dijelajahi sebagai wisata alam. Sebanyak 35 obyek wisata yang terdaftar di visitingjogja.com mayoritas merupakan wisata alami seperti candi, desa wisata, kawasan Kaliurang, dan sebagainya. Berdasarkan data resmi yang dipublikasi dari visitingjogja.com, sektor pariwisata di Sleman memberikan kontribusi besar bagi Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Sleman sebesar Rp 218.475.244.777,- dengan jumlah kunjungan wisatawan domestik sebanyak 7.606.312 orang dan 291.776 wisatawan mancanegara sepanjang tahun 2018.

Akan tetapi pandemi Covid-19 yang mulai mewabah di Jogja pada tahun 2020 cukup menghantam pariwisata di Jogja termasuk Sleman dan saat ini masih menghantui sempat menghentikan operasional hampir seluruh kawasan wisata termasuk fasilitas pendukung seperti hotel, biro perjalanan wisata, UMKM penyedia souvenir, rumah makan dan restoran, dan sebagainya. Dilansir dari media Kedaulatan Rakyat pada 12 April 2020, kerugian yang dialami sektor pariwisata DIY akibat dampak Covid-19 diperkirakan mencapai Rp 67,04 miliar, yang mencakup 1.207 unit usaha pada 15 jenis usaha pariwisata. Sektor destinasi wisata alam/budaya mengalami kerugian sebesar Rp 18,37 miliar, hotel dan MICE sebesar Rp 11,22 miliar, destinasi wisata buatan Rp 7,31 miliar, tour and travel sebesar Rp 5,48 miliar, dan desa wisata sebesar Rp 4,27 miliar. Dapat dilihat bahwa Covid-19 berdampak sangat buruk terhadap sektor pariwisata.

Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman telah membatalkan berbagai event yang telah direncanakan pada tahun sebelumnya dan mengalokasikannya dalam mendukung Gugus Tugas Covid-19 di Sleman sebesar 85 % untuk pembelian handsanitizer, westafel, APD, dan masker yang dibagikan ke 62 titik di seluruh wilayah Sleman.

Era new normal yang mulai digaungkan memberikan harapan kawasan wisata di Sleman untuk berbenah mengikuti protokol yang aman dalam berwisata. Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) bersama dengan Dinas Pariwisata Sleman mengupayakan untuk kembali membuka kawasan wisata secara terbatas, artinya membatasi jumlah pengunjung untuk menerapkan physical distancing, menyediakan tempat cuci tangan serta sabun atau handsanitizer di berbagai titik kawasan, dan mewajibkan penggunaan masker. Kawasan wisata yang resmi diujicobakan adalah kawasan terbuka seperti desa wisata dan candi. Hal ini juga sesuai dengan himbauan pemerintah pusat untuk menerapkan kawasan wisata secara terbatas di kawasan terbuka.

Kabupaten Sleman telah mengujicobakan 2 kawasan candi, Tebing Breksi, dan satu desa wisata dari 50 desa wisata yang ada di Sleman. Desa wisata pertama yang diujicobakan adalah Blue Lagoon yang terletak di Area Sawah, Widomartani, Ngemplak, Sleman. Dalam acara “Dialog Interaktif Peserta Press Tour-Blogger di Desa Wisata Blue Lagoon Dalam Rangka Ujicoba New Normal” pada 23 Agustus 2020 yang dihadiri Kepala Dinas Pariwisata, Dra. Sudarningsih M.Si.; Ketua BPPS 2016-2020, Guntur Eka Prasetya, SH., MKn, M.Par, Bapak Suhadi sebagai ketua pengelola Blue Lagoon, Dra. Esti Susilarti, M.Par selaku anggota BPPS, dan salah satu perwakilan dari Blogger menjelaskan bahwa new normal perlu disiplin dilaksanakan terutama oleh pihak penyedia wisata dan pengunjung untuk tetap aman berwisata dan menekan kasus Covid-19. Dalam rangka ujicoba tersebut, Dinas Pariwisata akan menindak tegas jika protokol kesehatan dalam new normal tidak dijalankan, termasuk menutup kawasan wisata. Acara ini juga dimeriahkan dengan beberapa pertunjukan budaya seperti Tari Gambyong, Tari Bondan, dan Gedruk Buto.

Blue Lagoon merupakan destinasi wisata yang diusung dalam konsep desa wisata ini resmi dibuka pada tahun 22 Maret 2015 dan diresmikan oleh Bupati Sleman. Tempat ini dikenal dengan tiga sumber mata air yang dapat digunakan sebagai pemandian. Awalnya tempat ini dinamakan Tirta Budi, namun airnya yang khas berwarna biru maka tempat ini lebih popular dengan nama Blue Lagoon. Untuk dapat mencapai lokasi, pengunjung dapat melewati jalur utama Jalan Kaliurang hingga km 13. Di pertigaan lampu merah Besi, ambil belok ke kanan sekitar 2,5 km (terdapat plang yang mengarah ke Blue Lagoon). Lokasi wisata ini tepatnya berada di dalam kampung. Blue Lagoon beroperasi mulai pukul 06.00-17.00 WIB.

Untuk dapat menikmati wisata, pengunjung cukup mengeluarkan tiket masuk sebesar Rp 5.000,-. selain itu dikenakan parkir untuk mobil sebesar Rp 3.000,- dan motor sebesar Rp 2.000,-. Fasilitas lainnya adalah kuliner, gazebo, mushola, penitipan barang, toilet yang bersih, dan homestay di sekitar kawasan yang memanfaatkan rumah penduduk. Di Blue Lagoon ini, para pengunjung dapat menikmati berbagai wisata, sekedar menikmati pemandangan alam yang indah dan asri, menyusuri kawasan Blue Lagoon yang tertata rapi, bahkan pengunjung dapat berenang di sumber air yang merupakan destinasi utama. Pada musim kemarau, sumber air tetap mengalir meskipun airnya tidak semelimpah saat musim penghujan.

Sebagai kawasan yang menerapkan new normal, Blue Lagoon telah menerapkan protokol kesehatan seperti penyediaan tempat cuci tangan dan sabun di beberapa titik terutama pintu masuk, mencuci tangan dengan sabun dan pemeriksaan suhu dengan thermo gun, mewajibkan setiap pengunjung menggunakan masker, dan pembatasan pengunjung.



















 

 

Sabtu, 04 April 2020

Mimpi Masa Tua

Apa yang ada di benak kita ketika melihat orang tua? Orang tua yang hidup sendirian, orang tua yang masih memiliki pasangan dengan kehidupan babagianya, orang tua yang hidup bersama teman-teman seusianya di panti jompo, dan kondisi masa tua lainnya.
Kita, terutama saya pasti memimpikan masa tua yang bahagia. Menghabiskan waktu tua bersama pasangan, melihat anak cucu yang hidup sukses, serta memiliki kegiatan positif dan produktif di masa tua.
Masa tua yang bahagia bisa kita usahakan dan desain mulai dari saat usia muda. Misalnya di masa tua nanti saya ingin punya usaha, maka mulai sekarang saya harus memiliki dan membangun bisnis sehingga nanti masa tua tinggal mengunduhnya. Meski masa depan unpredictable, setidaknya kita sudah menuju kesana.
Saat ini saya merintis usaha yang bernama Omah Nyulam, tidak sekedar produksi tas dengan sulaman tangan, namun juga usaha mengisi kosongnya waktu dengan hal menyenangkan. Bagi sebagian orang menyulam mungkin hal sulit, tapi bagi saya itu adalah terapi psikis dimana saya menemukan kegiatan itu saat stres, depresi, jenuh. Maka ketika saya mulai stres, saya memegang jarum dan benang sulam. Dua hal yang bisa saya capai dengan menyulam, stres berkurang, sekaligus produksi. Bahkan saya ingin lakukan kegiatan menyulam saat masa tua saya, sembari bercengkerama dengan pasangan, saya pun masih bisa produktif dan bahagia.
Itulah mimpi saya, bagaimana dengan Anda? 😊😊

Kamis, 10 Januari 2019

SEBATANG TEBU DAN SEBUAH LABU


Bulan Desember Jogja sudah mulai sering diguyur hujan. Sebagian besar pekerjaan telah kuselesaikan dengan baik. Liburan panjang pun sudah menanti. Kesempatan langka untuk menengok kampung halaman, pinggiran kota Klaten yang berbatasan dengan Boyolali. Jarak Jogja dengan Klaten memang dekat, dapat ditempuh selama kurang lebih 1,5 jam jika naik sepeda motor. Akan tetapi karena kesibukan yang sangat padat di Jogja, pulang pun menjadi sesuatu yang sangat jarang dilakukan, dan menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Aku bersyukur bahwa kepulangan kali ini masih diberi kesempatan melihat wajah ayah dan ibu. Wajah yang keriput namun paling kurindukan, terutama ibu. Teringat tantangan Jasmine Elektrik dalam event #JasmineElektrikCeritaIBU untuk menuliskan cerita tentang ibu, bertepatan dengan peringatan Hari Ibu di bulan Desember meskipun bagiku setiap hari adalah hari ibu. Begitu banyak kenangan yang hingga kini masih kuingat jelas tentang ibu. Kehidupan yang sederhana namun dermawan, lembut namun disiplin, penyabar, tangguh, dan hangat yang membuat orang lain nyaman setiap berada di sisinya.
Kuluangkan waktu untuk menjelajah setiap tempat bermain saat aku kecil. Tempat yang sudah jarang dijamah anak-anak jaman sekarang, persawahan yang terletak di bagian selatan kampungku. Persawahan tersebut cukup luas, dibagi menjadi dua bagian, sisi barat dan timur yang dipisahkan dengan jalan setapak selebar 2 meter dan panjang 500 meter, yang merupakan pemisah antara kampungku dengan kampung tetangga. Jalan setapak itulah tempat yang paling sering kususuri bersama teman-teman saat kecil, bermain layang-layang di pematang sawah, atau melihat teman-teman yang laki-laki bermain sepakbola di sawah yang sudah selesai panen dan belum ditanami.
Aku berdiri memandang hamparan hijau tanaman. Sebagian besar ditanam padi, dan beberapa petak sawah ditanam tebu. Tidak banyak yang berubah, hanya suasananya yang sepi, jauh dari suara tawa anak-anak bermain seperti dulu. Handphone dan gadget telah menyandera budaya permainan tradisional seperti masa kecil kami. Aku tidak menyalahkan teknologi, hanya menyayangkan kurangnya kebijaksanaan dalam menggunakannya. Kususuri jalan setapak perlahan-lahan, hanya terlihat dua orang petani yang menyambangi tanah sawahnya. Rerumputan liar tumbuh subur di pinggir jalan setapak, menandakan tak ada injakan yang menghalangi tumbuhnya. 
Hal yang paling kuingat saat di sawah adalah proses memanen tebu. Hal yang menurutku sangat menyenangkan karena suasana ramai dan banyak orang. Berderet-deret truk parkir di pinggir jalan dekat sawah untuk mengangkut tebu menuju penggilingan. Kami menunggu hingga selesai panen, bahkan melihat area sawah bekas menanam tebu yang dibakar. Momen setelahnya sungguh unik, teman-teman mencari sisa-sisa tebu untuk dimakan.
Pada awalnya aku hanya suka melihat, karena sebagian para orang tua di kampung berpesan,
“Jangan mengambil tebu, nanti kamu dibawa ke pabriknya”.
Hal yang menakutkan bagi anak kecil sepertiku. Akan tetapi semakin besar usiaku membuat penasaran dengan rasa tebu. Saat usiaku menginjak 8 tahun dan merasa sudah besar, aku bermain agak jauh bersama teman-teman, meskipun tetap di persawahan. Kali ini aku terprovokasi untuk mengambil sebatang tebu sisa panen seperti teman-teman lainnya. Sore sudah mulai sepi dan hanya aku dan teman-teman. Aku pun mengambil sebatang tebu dan membawanya pulang karena tidak ada alat untuk mengupasnya.
Sampai rumah pun ibu mengamatiku dan tebu yang kubawa,
“Kamu mendapat tebu dari mana?” tanya ibu lembut.
Kemudian kuceritakan asal mula tebu yang kubawa pulang. Ibu menghela nafas,
Nduk, meskipun tebu itu tebu sisa, kamu tidak boleh mengambilnya karena kamu tidak meminta izin pada yang punya. Meskipun kata orang ini adalah tebu yang sudah tidak layak untuk dibawa ke pabrik, namun kamu tetap tidak berhak atasnya. Mengambil tanpa izin artinya mencuri,” ibu menjelaskan dengan bahasa yang mudah kupahami.
Setelah menjelaskan itu, ibu memintaku untuk mengembalikannya di tempat semula. Sore sudah beranjak ke petang, maka kukembalikan di hari berikutnya. Sepulang sekolah, kususur lagi jalan menuju sawah tempat dimana sebatang tebu itu kuambil. Kuletakkan di tempat semula tebu itu. Siang yang terik membuatku segera pulang. 
Hal yang serupa terulang selang beberapa bulan berikutnya. Aku membawa pulang sebuah labu yang tergeletak di semak-semak sepulang sekolah dari Taman Pendidikan Al’Quran (TPA) di kampung tetangga. Kampung itu berjarak sekitar 3 km dari rumah, dan TPA kutempuh dengan berjalan kaki bersama teman-teman satu kampung yang berjumlah 4 orang seusai pulang sekolah. Hampir setiap hari kami berjalan untuk menuntut ilmu agama.
Suatu hari, teman dari kampung di TPA tempat kami mengajar, menunjukkanku jalan pintas untuk pulang. Jalan yang melalui persawahan dengan pemandangan yang indah meskipun harus menyusuri pinggir sungai yang dalam. Di sekitar sungai itulah aku melihat beberapa labu di tanah. Kata teman yang mengantarkan kami, tanaman labu itu tak bertuan, tidak ada yang pernah mengambilnya dan akhirnya membusuk. Aku berpikir sayang sekali kalau hanya terbuang, maka kuambil satu dan teman-teman sekampungku pun mengambil juga.
Sampai rumah pun ibu menanyakan asal muasal labu itu. Labu yang sudah matang berwarna kuning cukup siap untuk dimasak. Lagi-lagi ibu menjelaskan panjang lebar tentang pentingnya meminta izin, dan pada akhirnya aku harus mengembalikan labu itu ke tempatnya. Sejak saat itulah setiap meminta aku akan mencari pemiliknya, bahkan ini berlaku saat di dalam rumah. Uang serupiah yang tergeletak di meja pun tidak akan hilang karena kami pasti akan meminta izin jika ingin mengambilnya.
Jika aku mengingat momen-momen itu, yang bahkan sudah hampir 27 tahun, aku baru menyadari bahwa kasih sayang ibu tak terbantahkan waktu. Kasih sayang yang dituangkan dengan pendidikan sejak dini. Pendidikan seorang ibu yang hingga detik ini sangat melekat dalam hati dan terpatri dalam ingatan. Pendidikan untuk menggambarkan betapa pentingnya izin yang menjadi sahnya kepemilikan. Seorang ibu yang berjuang menjaga putrinya menjaga adab dan menempatkan diri menjadi madrasah utama bagi anak-anaknya. Pada akhirnya aku memahami bahwa tujuannya adalah menjauhkan diri dari mengambil hak orang lain tanpa izin sehingga budaya meminta izin sangat lekat dalam kehidupan sehari-hariku.
Bahkan hingga detik ini, aku masih sangat menjaga agar tidak ada makanan yang masuk tanpa jelas asal muasalnya, atau menyimpan barang yang bukan milik sendiri tanpa izin pemilik. Aku pun mengikuti jejaknya, mengajarkan anakku untuk terbiasa meminta izin, meskipun kepada orang tua sendiri. Hanya sebatang tebu dan sebuah labu, namun cukup mengajariku tumbuh menjadi anak yang pantang menyandera hak orang lain, serta mengenal halal dan haram.

#JasmineElektrik  #JasmineElektrikCeritaIBU #MimpiIIIBU

Sabtu, 01 Desember 2018

MENIKMATI PERAN

Menjadi ibu itu tantangannya super kompleks, terutama saat membersamai anak dalam pertumbuhannya. Sesuatu yang baru, atau tempat yang baru menjadi semacam uji nyali untuk anak. Di sisi lain menjadi ketakutan bagi ibu bagaimana anak menghadapinya, oleh karena itu penting untukku mengenalkan sesuatu yang baru sekaligus memberikan edukasi dalam tumbuh kembangnya. Saya rasa sangat eman untuk melepaakan masa-masa berharga ini.

Jadwal renang kali ini yang biasa di Griya Alvita pindah ke Kolam Renang UNY. Ini tempat yang pertama kalinya dikunjungi, pun melepaskan anak di tempat ini tidak bisa. Bukan karena tidak tega, tapi karena rawan untuk anak-anak yang rasa ingin tahunya lebih tinggi. Kolam renang dengan 4 lokasi memiliki kedalaman yang bervariasi yaitu 50 cm, 1 m, 1-5 meter, dan 7 m. Inilah yang riskan untuk anak-anak mengingat usianya yang baru 10 tahun pasti ingin mencoba segala sesuatu yang baru.

Akhirnya dengan berbesar hati sejenak meletakkan pekerjaan yang seharusnya pagi ini selesai, demi mendampingi dan mengawasi keamanannya.

Selesai renang, dilanjutkan dengan mencoba tempat baru yang sangat ingin dikunjungi anak lelakiku, Masjid UGM. Sejak keberangkatan menuju kolam renang tadi pagi, menara masjid yang menjulang tinggi cukup menarik perhatiannya. Sekilas menjelaskan bahwa masjid itu sangat indah. Ketertarikannya menjadi peluang besarku, sehingga selain keinginan menjelajahi tempat baru, ingin rasanya mengenalkan suasana masjid di Jogja satu per satu. Menyiapkannya menjadi seorang imam kelak di masa depan.

Ingin menjadikan hatinya terpaut pada masjid, yang kelak menjadi penolongnya di padang Mahsyar. Kadang sebagai seorang ibu, aku merasa menjadi orang yang sangat keras dan tidak sabaran, tapi aku ingin dia tahu kelak suatu hari bahwa semua yang kulakukan adalah untuk mendidiknya dan untuk kebaikannya.

Sebenarnya aku sangat ingin fokus untuk mendampinginya menghadapi tantangan zaman, dimana saat ini semakin banyak hal yang riskan yang mempengaruhi dalam tumbuh kembangnya, namun kondisi tetaplah menuntutku harus pandai membagi waktu. Aku ingin menikmati waktu untuk membersamainya sekaligus sebagai wanita karir. Keseimbangan yang sangat sulit dicapai tanpa gigih dan disiplin untuk menjalankan komitmen tersebut.

Laa haula walaaa quwwata illaa billah.

Sabtu, 17 November 2018

AKAN SAMPAI PADA MIMPIMU, NAK!


Menjadi perempuan karir sudah pernah didiskusikannya dengan suami. Riana, yang merupakan lulusan kedokteran, spesialis Ginekologi bercita-cita mengabdikan dirinya dalam dunia kedokteran.

“Aku ingin melindungi para perempuan agar tidak tersentuh dengan yang bukan mahram. Para perempuan saat ini sangat rentan dengan pelecehan”, ungkapnya suatu malam dengan suaminya.

“Aku mendukungmu. Tapi bagaimana dengan generasi kita? Aku ingin kamu bisa mendidiknya dengan tanganmu sendiri,” tanya suaminya.

“Insya Allah aku akan berusaha menyeimbangkan, menjalankan pengabdianku sebagai ibu dan istri, juga pengabdian untuk masyarakat,” jawabnya mencoba meyakinkan suaminya.

“Baiklah kalau itu keputusanmu dan kamu bisa menjalankan, aku bisa mendukung. Namun nanti jika di tengah jalan ada ketidakseimbangan, aku berharap kamu lebih memilih memprioritaskan mendidik anak-anak,” kata suaminya.

“Baiklah,” kata Riana. Suaminya mengecup kening Riana, mengakhiri diskusi malam dengan santun.

Suami Riana, Rudi yang juga seorang dokter, sangat paham dengan karakter Riana. Rudi mengetahui tentang Riana selama masa perkuliahan 4 tahun terakhir. Riana memang menjadi buah bibir di gedung perkuliahan spesialis, selain cantik, juga sangat cerdas. Rudi menyimpulkan bahwa Riana sebagai orang yang gigih berjuang, berambisi mencapai sesuatu yang menjadi prinsipnya, juga orang yang bisa diandalkan. Ini terbukti dari berbagai tugas yang diberikan dosen maupun nilai akademis yang memuaskan sehingga Riana selalu menduduki peringkat tertinggi dalam studinya.

Rudi memang menaruh hati kepada Riana, namun ia merasa minder karena merasa orang biasa yang berjuang untuk mengangkat derajat keluarganya menjadi seorang dokter spesialis penyakit dalam. Akan tetapi Riana bukanlah orang yang ramah dengan laki-laki, meski banyak yang menyukainya. Ia sangat cuek dan menjaga jarak dengan yang namanya laki-laki, tidak heran jika ia sering terlihat jutek dengan para laki-laki. Justru ini yang semakin membuat Rudi jatuh hati, Riana bukan perempuan gampangan.

“Kamu kenapa sih Ri? Tiap ketemu cowok pasti jutek?” tanya salah seorang teman dekatnya, Ari.

“Entah, aku gak suka aja. Kayaknya banyak modus.” Jawab Riana sambil tertawa.

Ari pun hanya melengos, mendengar jawaban Riana yang dinilai asal. Bahkan niatnya menjodohkan dengan kakaknya yang menaruh hati pada Riana pun urung. Riana yang beberapa kali mengerjakan tugas di rumah Ari cukup membuat kakaknya, Heri, jatuh hati. Wirausahawan muda yang sangat mandiri, tampan, dan kaya itu menjadi incaran banyak perempuan. Saking kayanya bahkan biaya sekolah Ari menjadi tanggungan sepenuhnya kakak lelakinya itu.

Kegigihan Riana membuahkan hasil, menjadi lulusan terbaik dengan waktu paling cepat. Panggilan kerja di salah satu rumah sakit terkenal di Jogja membuatnya merasa sangat bersyukur. Allah telah mudahkan jalannya meniti menuntaskan pendidikan melalui beasiswa, pun mendapatkan pekerjaan sesuai dengan passion-nya.

Usianya memang hampir menginjak 30 tahun, namun keinginan berkeluarga belumlah ada. Hal ini karena ia masih ingin membahagiakan orang tuanya yang sudah renta. Ia, yang merupakan anak sulung ingin menghajikan orang tua sebelum dipanggil Allah. Maka dengan sekuat hati ia menabung.

“Ibu ingin melihatmu menikah, ada yang menjagamu saat ibu atau ayah tidak ada.” Ungkap ibunya suatu malam.

“Yang jaga kan Allah, Bu. Insya Allah nanti kalau sudah waktunya jodoh akan datang kok, Bu,” jawab Riana berkilah dengan lembut.

Ibunya hanya menghela nafas panjang, merasa tidak ada gunanya berdebat dengan Riana. Ibunya sangat tahu jika Riana tidak menginginkan sesuatu dan dipaksa maka hasilnya tidak baik. Akhirnya ibunya hanya banyak berdoa, mengirimkan seorang laki-laki soleh untuk Riana.

Dua tahun praktik di rumah sakit, Riana banyak mendapatkan curahan hati mengenai pengalaman para pasiennya yang tidak menyenangkan. Pengalaman periksa dengan dokter Ginekologi yang seringnya laki-laki dan memberikan kesan yang tidak menyamankan. Hal itu membuat Riana bertekad kelak untuk mendirikan praktik sendiri demi menjaga dan melindungi hak-hak perempuan.

Tahun ketiga Riana bekerja, beberapa teman seangkatan terlihat praktik di rumah sakit yang sama, termasuk Ari. Pertemuan yang membuat Riana merasakan teman seperjuangan. Ari pun merasakan mendapat guru dalam menjalankan pekerjaannya. Saat itu pulalah meja operasi menjadi media pertemuan dengan Rudi.

Riana memang tidak mengenal Rudi, tapi berbeda dengan Rudi yang telah menyimpan mimpi untuk Riana. Awal pertemuan memang dirasakan bahwa Riana sangat dingin terhadapnya. Namun seiring waktu dengan banyak kasus yang terjadi, Riana terpaksa banyak  berdiskusi dengan Rudi. Beberapa kerjasama dalam operasi sering dilakukan, mendiskusikan hasilnya dan membuat penemuan-penemuan baru.

Riana terlihat mulai ramah terhadap Rudi, bahkan menghabiskan istirahat siang bersama dengan berdiskusi. Namun Riana masih tetap Riana yang dulu, menutup hati untuk menjalin komitmen, menetapkan tujuan dalam rule yang disepakati hatinya.

Sebenarnya Rudi sudah berkali-kali memberikan kode untuk serius dengan Riana, namun tidak juga ditanggapi Riana.

“Aku mencintai seorang perempuan, yang ketika melihatnya aku sangat menginginkannya menjadi pendampingku,” dia bercerita kepada ibunya.

Perempuan tua itu menjadi orang yang paling perhatian jika Rudi sudah bercerita. Pun sebagai anak satu-satunya, waktunya telah ia habiskan untuk mendidik Rudi dengan baik. Dengan kehidupan sederhana, Rudi bukanlah orang yang  suka bercerita tentang hal-hal yang tidak serius. Kehidupannya mengajarkan untuk menghargai hidup, tidak main-main dengan waktunya, dan menjaga benar ucapannya.

“Kamu mengenalnya dengan baik?” tanya Ibunya.

“Ya, sejak 7 tahun yang lalu aku sering mengamatinya. Rudi tidak punya banyak kriteria untuk calon menantumu, Bu. Tapi solehahnya insya Allah ada padanya”  

“Oh, ya? 7 tahun bukan waktu yang sebentar kamu menaruh hati pada satu perempuan. Apa yang menghalangimu mendapatkannya?”

“Aku sudah mencoba menarik perhatiannya. Mencoba memberikan semacam tanda bahwa aku suka, tapi sepertinya dia tidak menyukaiku”

“Nak, jangan datangi perempuannya. Datangi walinya,” nasehat ibunya.

Rudi hanya menunduk dalam-dalam, menyadari langkahnya yang terburu-buru.

“Nanti malam sholat tahajud dan istikharah sama ibu,” ucap ibunya sambil mengusap-usap bahu Rudi, menyadari bahwa ada kegalauan berat tersimpan dalam hatinya.

Kamu akan sampai pada mimpimu, Nak. Insya Allah.

Ucap ibunya dalam hati. Maka mulai malam itu adalah malam-malam perjuangan Rudi dan ibunya. Memohon pada Rabb untuk satu permintaan mulia, menyempurnakan agamanya.

Tiga minggu kemudian Rudi membuka percakapan,

“Bolehkah aku mengunjungi orang tuamu bersama ibuku?” tanya Rudi santun

Riana sedikit membelalakkan matanya, kaget luar biasa, namun seketika ia bisa mengontrol rasa keterkejutannya.

“Keperluannya apa ya?” Riana berpura-pura menanyakan, padahal sudah lama memang ia paham gelagat Rudi yang menyukainya, namun ia berusaha cuek karena mengingat komitmennya.

“Kami ingin bersilaturahmi, menjalin hubungan dua keluarga dengan baik” jawab Rudi. Jawaban diplomatis yang cukup membuat Riana mengakhiri pembicaraan.

“Baiklah. Akan kutanyakan orang tuaku kapan mereka siap. Akan kukabari waktunya”

Riana berlalu sambil berpura-pura seperti biasanya, yang jutek dan dingin. Meski Rudi tahu Riana sedikit salah tingkah. Itu membuat Rudi tersenyum.

Akhirnya pertemuan kedua keluarga dijadwalkan. Pembicaraan diawali dengan perkenalan keduanya, hingga fokus pada tujuan utama pertemuan.

“Secara baik-baik, saya ingin melamarkan keponakan saya untuk Riana,” kata paman Rudi.

Rudi memang anak yatim, ayahnya telah meninggal dalam kecelakaan kerja sepuluh tahun silam. Karena itulah ia sangat mencintai ibunya, sebagai orang tua satu-satunya.

“Kami tidak bisa menjawabnya, anak kamilah yang memiliki hak dalam hal ini,” jawab ayah Riana

Ibunya masuk memanggil Riana, kemudian duduk di samping ibunya sambil menunduk.

“Bagaimana, Nduk? Nak Rudi ingin meminangmu. Apakah kamu bersedia?” tanya ibunya.

“Sebenarnya Riana mau, Bu. Tapi Riana telah berjanji untuk menghajikan ibu sama ayah dulu  baru menikah” jawab Riana masih dengan menunduk.

Nduk, ndak apa-apa kamu menikah dulu. Insya Allah masih ada waktu, Allah akan mudahkan niatmu terlaksana” ucap ibu, yang diiyakan oleh ayahnya.

Riana lama diam. Bimbang untuk menjawab. Setelah didesak akhirnya ia menjawab,

“Baiklah kalau itu ridho ibu dan ayah, Riana bersedia”

Rudi pun berucap syukur penuh dalam hati. Doa ibunyalah yang membuka kemudahan baginya.

Tak lama untuk melangsungkan pernikahan, Rudi dan Riana bersepakat mengadakannya dengan sederhana. Beberapa anak asuh Rudi juga menjadi pelengkap para tamu yang mendoakan kelanggengan hubungan mereka.

Sujud syukur bahwa tujuh tahunnya adalah doa yang menjadi kenyataan. Ibunya pun menjadi andil dalam kehidupan Rudi.

“Ada hadiah untuk ibu dan ayah,” kata Rudi seminggu kemudian.

Kejutan yang tak pernah Riana bayangkan. Hadiah terbesar dalam pernikahannya. Mencari ridho orang tua maka mendapatkan ridho Allah. Benarlah yang diriwayatkan Riwayat Ath Thabarani dan dishahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi bahwa ridha Rabb terletak pada ridha kedua orang tua dan murka-Nya terletak pada kemurkaan keduanya.

Keduanya telah mendapatkan ridho orang tua, maka mereka sampai pada mimpi masing-masing.

“Akan sampai pada mimpimu, Sayang.” Ucap Rudi sembari mengecup kening istrinya.

Doa yang sama untuk istrinya, bahwa karena ia tahu bahwa ridho suami adalah kemudahan bagi istrinya.