Sabtu, 23 November 2024

Adakalanya

Adakalanya kamu harus memeluk erat sendiri lukamu
Dan diam-diam menangis pilu
Sementara kamu harus membahagiakan jiwa-jiwa di sekitarmu

Adakalanya kamu harus merelakan pergi apa yang pernah menjadi milikmu
Dan dipaksa berdamai dengan kenyataan yang jauh dari harapanmu
Sementara ada banyak pencapaian belum terpenuhi dalam daftarmu inginmu  

Adakalanya kamu merasa bahwa takdir baik tak berpihak padamu
Dan membuatmu ragu dengan langkah-langkahmu
Sementara dadamu semakin merasa sesak dan pilu 

Adakalanya hatimu akan patah
Dan membuatmu kehilangan arah
Sementara sekitarmu mulai membuat dirimu merasakan jengah   

Tak apa
Semua adakalanya itu tak mengapa
Tak apa
Meski saat ini kamu hanya bisa terduduk, terdiam, dan menangis
Tetaplah yakin dengan kehidupan baik yang sedang Dia persiapkan
Ini hanya masalah waktu


Klaten, 23 November 2024

 



Minggu, 22 September 2024

Entitlement Mentality

Definisi

Dikutip dari Assesment Indonesia, entitlement mentality merupakan suatu sikap psikologis yang dimiliki seseorang di mana ia memandang bahwa ia memiliki hak untuk memperoleh hal-hal yang diinginkan tanpa berusaha keras. Hal ini karena ia memiliki pola pikir bahwa dunia berhutang padanya. Individu dengan entitlement mentality cenderung berekspektasi tinggi yang bahkan tidak realistis untuk mendapatkan berbagai perlakuan istimewa tanpa perlu melakukan usaha atau memperjuangkannya.

Menurut Campbell et al (2004) dalam penelitian Emmanuel Nkomo (2022) dengan judul "Perceived work values, materialism and entitlement mentality among Generation Y students in South Africa", rasa dari hak (entitlement) tersebut merupakan rasa yang meliputi bahwa seseorang berhak memperoleh lebih banyak dan berhak mendapatkan lebih dibanding orang lain.

Adanya perasaan hak ini menyebabkan mereka menganggap diri lebih sehingga merasa harus mendapatkan prioritas dan perlakuan khusus, bahkan tak segan-segan mengabaikan hak orang lain. Perasaan ini mengarah pada narsistik. Hal paling buruk adalah mereka dapat bertindak seolah-olah sebagai korban dan menyalahkan orang lain. Sikap ini mengarah pada playing victim yang juga merupakan masalah psikis.     

Sejarah Penelitian Entitlement Mentality    

Berbagai penelitian terkait entitlement mentality telah dilakukan, dan hampir keseluruhan memiliki dampak buruk terhadap kehidupan sosial. Penelitian pertama dilakukan oleh Sennett (1973) yang mengemukakan bahwa tingkat pendidikan yang tinggi sebagian besar orang Amerika menjadi sumber utama perasaan hak yang besar atas pekerjaan. Konsep ini dikembangkan lebih lanjut oleh Bell (1976) mengenai budaya kapitalis di mana hak diidentifikasi sebagai sikap sentral di antara para pekerja. Lebih lanjut dijelaskan oleh Bell bahwa munculnya ekspektasi yang meningkat dalam masyarakat beradab berubah menjadi revolusi meningkatnya hak.  

Bagaimana Entitlement Mentality terbentuk?

Berbagai faktor menjadi penyebab entitlement mentality. Dikutip dari berbagai sumber, berikut ini faktor-faktor yang menyebabkan entitlement mentality:

1. Pendidikan dan lingkungan keluarga

Orang tua yang terbiasa memanjakan atau memfasilitasi seorang anak tanpa diimbangi dengan mengajarkan bagaimana mengusahakannya akan menjadikan anak memiliki karakter selalu ingin dilayani dan diprioritaskan. Jika hal ini terbawa dalam berbagai lingkungan bahkan hingga dewasa maka individu tersebut akan selalu menuntut seperti apa yang selama ini didapatkan. 

2. Budaya dan media

Budaya instan memperoleh segala sesuatu yang diinginkan menjadikan seseorang enggan berproses dan berusaha. Budaya ini semakin mempengaruhi pikiran setiap orang dengan adanya media yang menyebarkannya, misalnya flexing dengan menghadirkan influencer. Media menjadi alat penyebaran budaya yang cepat, terutama dengan adanya teknologi digital yang saat ini menyentuh seluruh aspek kehidupan. Orang yang melihat budaya instan akan berlomba untuk mengikutinya karena yang tertanam adalah ia memiliki hak seperti yang ia lihat. Orang akan cenderung menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang diinginkannya. 

3. Reinforcement dan penghargaan

Individu yang terbiasa memperoleh penghargaan atau hadiah tanpa dinilai dari kinerja menyebabkannya memiliki entitlement mentality. Mereka berpikir bahwa tanpa berjuang sudah mendapatkan perhatian, prioritas, dan posisi lebih dibanding orang lain.

Berdasarkan uraian di atas, dapat dilihat bahwa entitlement mentality merupakan gangguan psikis yang dapat memberikan dampak buruk dalam kehidupan sosial. Hal ini karena sikap tersebut menimbulkan persaingan yang tidak adil, melukai perasaan orang lain, pengabaian hak-hak orang lain, munculnya budaya tidak sehat seperti flexing, suap, malas, dan sebagainya. Oleh karena itu sikap entitlement mentality perlu mendapatkan perhatian dari ahli psikologi agar memiliki kehidupan yang berkualitas.

 




Kamis, 05 Oktober 2023

FRUGAL LIVING

 Akhir-akhir ini kita sering mendengar istilah "frugal living" kan? Penasaran dong apa itu frugal living. Dikutip dari CNN, frugal living merupakan gaya hidup yang sadar pengeluaran dan fokus pada saving (menabung, investasi, dan sebagainya). Hidup dengan konsep frugal living cenderung mengalokasikan dana yang dimiliki untuk kepentingan yang produktif, minimal tidak membeli barang-barang konsumtif atau yang memiliki nilai ekonomi yang semakin menurun.  

Mengapa frugal living itu penting diterapkan?

Beberapa alasan untuk menerapkan frugal living saat ini adalah:

  1. Merawat barang akan membutuhkan energi, waktu, dan dana yang tidak sedikit. Semakin banyak barang maka semakin besar energi, waktu, dan dana yang dibutuhkan. 
  2. Untuk keadaan darurat, barang-barang yang dibeli sulit untuk diuangkan dan cenderung menurun nilainya dibanding jika berupa tabungan atau aset.
  3. Dalam kondisi bencana atau harus meninggalkan rumah, barang-barang akan sulit dibawa serta. Ini artinya harus siap kehilangan materi atau harta yang tertinggal dalam rumah.
Frugal living juga membantu seseorang untuk lebih fokus pada gaya hidup yang sehat. Mengapa? Karena pikiran dibatasi pada kebutuhan, bukan keinginan. Selain itu juga pengeluaran juga dapat dikontrol sehingga finansial lebih tertata. 

Untuk dapat menerapkan frugal living memang harus mengesampingkan gaya hidup yang hedon dan gengsi. Beberapa tips yang bisa dilakukan untuk melatih gaya hidup frugal living antara lain:

  1. Memahami antara kebutuhan dan keinginan
  2. Merencanakan pos-pos penyimpanan keuangan seperti operasional, tabungan pendidikan anak, dana darurat, deposito, dana pensiun, dan sebagainya sehingga pengaturan dana bisa terarah.
  3. Harus bisa memilah dan memilih barang yang bisa dibeli second atau barang baru. Untuk barang-barang seperti meja, kursi, mobil, dapat 
  4. Memanfaatkan promo saat berbelanja
  5. Mengatur kebutuhan dalam sebulan dan memastikan bahwa pengeluaran lebih kecil daripada pemasukan.      
Dengan keamanan finansial maka secara psikis juga akan lebih stabil. Tingkat kecemasan akan ketidakmampuan finansial dapat ditekan melalui gaya hidup frugal living. Yuk dicoba 😊

Rabu, 04 Oktober 2023

PEOPLE PLEASER

Pernah mendengar istilah "people pleaser"? Istilah ini muncul dan erat kaitannya dengan bidang psikologi. Secara umum, people pleaser diartikan sebagai orang-orang yang selalu ingin menyenangkan orang lain dan berusaha memenuhi ekspektasi orang-orang di sekitarnya, bahkan sampai mengabaikan kepentingan diri sendiri. Ini tentu berdampak buruk dalam kehidupan seseorang karena tidak bisa mengelola mana prioritas dan hal penting yang seharusnya didahulukan. 

Orang-orang yang memiliki sikap people pleaser ini rentan dimanfaatkan karena tidak bisa menolak keinginan dan permintaan orang lain. Hal ini karena people pleaser cenderung tidak enakan, memiliki rasa bersalah yang tinggi, terlalu memperhatikan pendapat orang lain, rasa takut dan cemas jika tidak bisa menyenangkan orang lain, tidak independen, dan sebagainya. Dengan kata lain people pleaser tidak bisa berkata "tidak" atas keinginan orang lain. Hal ini membuat orang-orang people pleaser cenderung diremehkan, dan hanya menjadi alternatif. 

Dilansir dari merdeka.com, people pleaser memiliki beberapa ciri antara lain sulit mengatakan "tidak", terlalu memikirkan pendapat orang lain, merasa bersalah jika tidak bisa memenuhi keinginan orang lain, rendah diri, berusaha memenuhi kebutuhan orang lain dan mengabaikan diri sendiri, selalu meminta maaf, memiliki perasaan khawatir dan cemas jika orang lain tidak menyukainya, serta selalu setuju dengan pendapat orang lain.

Kenapa seseorang memiliki perilaku people pleaser? Masih dilansir dari sumber yang sama, perilaku people pleaser dipicu oleh beberapa alasan, antara lain harga diri yang buruk, merasa insecure, dan memiliki pengalaman masa lalu yang buruk.

People pleaser cenderung bersikap baik kepada siapa saja, berusaha memenuhi keingan orang lain, dan terlihat seperti "angel" di mata orang lain. Di sisi lain, dampak buruk pun dirasakan people pleaser seperti stres dan cemas karena harus selalu memenuhi ekspektasi orang lain, merasa lelah karena orang lain selalu mengambil keuntungan dan memanfaatkan dirinya sementara jika meminta tolong belum tentu orang lain dapat memenuhinya, pribadi tidak dapat berkembang dengan baik karena tidak bisa memprioritaskan diri sendiri (tidak banyak waktu mengurus kepentingan diri sendiri karena terlalu memperhatikan orang lain), juga hidup dalam kepura-puraan demi dapat dianggap baik orang lain.

Menjadi people pleaser melelahkan bukan? Jadi, bagaimana untuk menghindari menjadi people pleaser? Beberapa tips yang bisa dilakukan antara lain:

  1. Memahami bahwa menjadi baik memang wajib, tapi SELALU memenuhi harapan orang lain adalah hal yang tidak mungkin karena setiap orang memiliki kepentingan berbeda. Masih ingat cerita seorang ayah, anak, dan seekor keledai bukan? 
  2. Prioritaskan waktu untuk diri sendiri dan keluarga inti. Mengapa? Karena ketika kita jatuh, maka diri sendiri dan keluarga intilah yang bisa diandalkan. Masih ingat konsep "safety first" kan? Kita tidak akan menjadi kuat dan membantu orang lain sebelum kita sendiri yang kokoh.
  3. Diri sendiri harus punya tujuan dan goal yang jelas bagaimana menjalani hidup. Karena apa? Semakin bertambah usia, kita akan menyadari bahwa orang yang membutuhkan kita adalah anak dan generasi kita. Mereka yang berhak mendapat perhatian prioritas kita. Jika kita mampu mengkonsep tujuan dan goal hidup dengan jelas, maka hidup akan lebih terarah, waktu akan semakin efektif dan efisien, dan psikis dapat lebih sehat.
Itu dia sekelumit mengenai people pleaser. Sangat boleh dan wajib berbuat baik untuk orang lain, tapi ingat kapasitas dan prioritas diri, ya. Agar bisa menjalani hidup dengan sehat secara fisik dan psikis. 




Selasa, 31 Januari 2023

HUMBLE

Apa yang ada di benakmu ketika mendengar kata humble? Istilah ini kukenal dari seorang sahabat tahun 2014 lalu. Satu kata yang maknanya ternyata jleb. Humble, atau diartikan sebagai rendah hati menjadi bagian dari pilihan hidup. Mengapa? Karena meskipun memiliki banyak keunggulan/kelebihan baik prestasi maupun materi, namun memilih untuk tetap tidak berbangga diri. Ibarat pepatah ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. Ia menyadari bahwa semua hanyalah titipan, bagaimanapun suatu saat akan diambil Sang Pemilik, Alloh swt.

Rendah hati ini sangat berbeda dengan rendah diri. Rendah hati lebih menekankan pada sikap yang stay cool, kalem, santai meskipun punya segudang prestasi atau support system yang sangat kompleks. Mereka cenderung menganggap biasa apa yang dimiliki dan tidak merasa dirinya superstar atau lebih dari yang lain.

Orang yang humble juga mampu menempatkan dirinya di lingkungan sekitar. Artinya ia tidak memiliki "ke-aku-an" yang besar, tapi bagaimana apa yang dimilikinya juga mampu memberikan kontribusi untuk orang lain. Ia memegang teguh di mana bumi berpijak di situ langit dijunjung. Di manapun ia akan mawas diri, tidak over react, dan memiliki sense untuk memahami sekitar sebelum bertindak.

Dirangkum dari podcast-nya Irfan Agia, humble dalam istilah psikologi diartikan sebagai "The Art of Humility", di mana orang-orang humble memiliki beberapa karakter.

1. Low focus on themself, artinya jika pada suatu kondisi/keadaan, saat diskusi, saat menghadapi suatu hal seorang yang humble tidak akan memusatkan pada diri sendiri. Ia berusaha untuk memberikan atensi atau fokus (spotlight) pada orang lain terutama di sekitarnya.

2. Memiliki sense of accuratness, di mana orang yang humble secara akurat tidak over atau underestimate accomplishment seseorang atau dirinya sendiri. Jadi seseorang yang humble memahami award-nya seberapa besar, bisa acknowledge tidak hanya dari penghargaan atau advantages (kelebihan) dimiliki, namun juga disadvantages (ketidaksempurnaan), kesalahan, keterbatasan, atau apapun yang bersifat gap. 

Miskonsep bagi sebagian orang adalah bahwa humble atau humility-nya bagus itu bukanlah suatu kekuatan, akan tetapi merupakan suatu weakness, rendahnya self esteem, ketidakberdayaan, merendah, nrimo, atau tidak percaya diri. Justru sebenarnya humble menunjukkan bahwa seseorang itu paham seberapa bagus kualitas kita dan segala batasannya. Orang yang humble akan paham batasan antara recognition dan braging. 

Apa yang membuat seseorang memilih humble? Orang-orang yang humble lebih mudah untuk membangun jaringan dan koneksi dengan frekuensi yang sama, yaitu orang-orang yang humble juga. Humility (humble) dapat membantu extending dan emphaty ke orang lain, sesuai dengan karakternya yaitu low focus of themself di mana mereka mau memberikan perhatian pada orang lain. "Me" mentality tidak akan dimiliki orang humble karena mereka lebih mengacu pada orang lain, mau menerima opini-opini orang lain. 

Hal itu karena orang humble menyadari bahwa mereka punya batasan-batasan dan masih harus banyak  belajar dari siapapun. Ini membuat karakter humble itu menyenangkan sehingga networking cenderung kuat karena membuat nyaman orang-orang di sekitarnya. 

Dari sisi internal, orang humble memiliki self awareness yang tinggi, mereka memahami diri sendiri, sering berdiskusi dengan diri sendiri sehingga orang yang humble bisa mengukur secara akurat mengenai perspektif mereka tentang diri mereka sendiri. Tidak perlu membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain karena menyadari setiap orang punya kelebihan dan kekurangan. 

Untuk bisa humble, bisa sering-sering mengobrol dengan diri sendiri, banyak membaca buku, banyak melakukan kegiatan yang disuka dan mengeksplore diri sendiri, juga bisa men-challenge diri sendiri untuk upgrade skill, sehingga bisa mengenali diri sendiri baik kelebihan maupun kekurangan. Selain itu belajar untuk mengapresiasi orang lain sehingga tidak melulu fokus pada diri sendiri. Ini menjadikan diri lebih humble bahwa orang lain pun punya banyak kelebihan yang mungkin tidak kita miliki.

Kamis, 08 Desember 2022

NIKMATI SAJA

Mengutip pernyataan Al-Imam Al-Qurthubi bahwa orang yang telah mencapai usia 40 tahun, maka ia telah mengetahui besarnya nikmat yang telah Allah anugerahkan padanya, juga kepada kedua orang tuanya sehingga ia terus mensyukurinya. Tanpa disadari, lebih dari separuh jatah hidup telah dihabiskan mengembara kehidupan. 

Itulah yang akan kualami 2 tahun mendatang. Mencapai usia 38 tahun di masa ini, Alloh telah menunjukkan potongan-potongan itu. Spill, begitulah bahasa gaulnya. Banyak kenikmatan di antara kehilangan, besarnya anugerah di antara ujian hidup, dan juga mencapai titik balik di mana 12 tahun terakhir berjuang keluar dari dasar jurang dan saat ini seperti di puncak Himalaya. 

Kita tidak pernah tahu bagaimana kehidupan kita ke depannya. Yang kupahami adalah, saat ini adalah "ekor" dari masa lalu, dan masa depan tidak lepas dari apa yang dilakukan saat ini.  Sang Pemilik Kehidupan memiliki banyak rencana, dan saya sangat percaya bahwa takdir yang saat ini dijalani adalah cara-Nya menempatkan sesuai peran hamba. Istilah Jawanya, mernahke. Dalam istilah bahasa Indonesia menata. Tuhan menata hamba-Nya di tempat yang sesuai.

Pernahkah kalian merasa bahwa apa yang diimpikan belum bisa tercapai, dan harus menjalani suatu kehidupan yang mungkin berat. Di saat itulah Sang Pencipta sedang memantaskan peranmu dalam episode hidupmu, "mernahke".

Pernahkah kalian mendaftar suatu pekerjaan dan ditolak di manapun? Harus menjadi ibu rumah tangga dengan segudang pekerjaan yang di mata banyak orang tidak menghasilkan uang, di situlah sesungguhnya peranmu sangat penting bagi keluarga, terutama anak-anak. Mereka yang lebih membutuhkan kehadiranmu untuk mengenal dunia. Di saat kamu ingin di rumah saja menikmati kehidupan, akan tetapi harus bekerja mencari nafkah, disitulah peranmu lebih dibutuhkan oleh orang-orang di luar keluargamu. 

Itulah istilah "mernahke". Sudah, nikmati saja peranmu. Tuhan pun tidak mungkin membebani para hamba-Nya di luar kemampuan. Sama halnya dengan pengalamanku ditolak di tempat-tempat pekerjaan yang kuimpikan selama 12 tahun ini. Dijalani saja, karena aku percaya Dia masih "mernahke". Peranku? Menjaga Maori, yang akhirnya cerita ini menjadi novel. Selalu ada peluang, bukan? 


- Maora -

Klaten 8 Desember 2022
Di sepertiga malam terakhir, 02.57 WIB


Kamis, 20 Oktober 2022

Pola Pengasuhan Ibu Milenial

 

“Didiklah anakmu sesuai zamannya, karena anak-anak tidak hidup pada zamanmu”

Begitulah Khalifah ke-4 dalam periode Khulafaur Rasyidin sekaligus menantu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib r.a. berpesan. Julukannya sebagai “Gerbang Pengetahuan” telah menyampaikan pesan tersebut 14 abad yang lalu, dan hingga saat ini masih berlaku. Dinamika zaman menuntut para orang tua, terutama ibu sebagai madrasah pertama seorang anak untuk selalu belajar dan menyesuaikan perkembangan zaman dalam pengasuhannya.

Perempuan dengan kelahiran 1981-1996 atau pada tahun 2022 berusia sekitar 25-40 dikenal sebagai generasi milenial (gen Y) dan umumnya sudah memasuki kehidupan rumah tangga. Ibu milenial menghadapi kenyataan bahwa generasi yang diasuhnya sudah jauh berbeda dengan dirinya saat mendapatkan pengasuhan dari orang tuanya yaitu gen X. Seorang ibu milenial dituntut untuk selalu update dan upgrade mengenai berbagai ilmu untuk mendukung pengasuhan.

Era milenial sangat berbeda dengan sebelumnya. Dalam pengasuhan, ibu milenial harus terlibat dan masuk dalam dunia anak untuk menyelaraskan frekuensi dengan anak. Ibu harus melepaskan beban pikirannya sejenak yang dapat menghambat totalitas interaksi dengan anaknya. Di sisi lain, ibu juga dapat melibatkan anak dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukannya untuk menambah pengalaman anak. Anak dapat memiliki wacana dan wawasan yang luas ketika bersama orang tua. Tidak hanya itu, anak dapat membangun empati dan tanggung jawab dari sikap yang dimiliki orang tua.

Seorang ibu harus mampu membesarkan hati anaknya manakala seorang anak mencurahkan kegelisahan, kekecewaan, luka, sakit hati, dan hal buruk yang menimpanya. Seorang ibu pantang mengucapkan, “Ibu saja dulu bisa saat seperti itu, masak kamu tidak?”. Ingat bahwa seorang anak pun tidak mau dibandingkan, terutama yang mengucapkan adalah orang terdekatnya. Hal yang pantang dilakukan adalah menggurui dan menghakimi karena hal tersebut membuat anak merasa tersudut dan merasa sendirian. Ibu milenial diharapkan dapat duduk, mendengarkan, memberikan ruang bagi anak mengungkapkan segala yang ada di pikirannya, bahkan meluapkan emosinya tanpa memutus adegan tersebut. Dengan hal itu, anak akan merasa nyaman dan lega. Kenyamanan anak terhadap ibu membuatnya dapat terbuka dengan berbagai hal yang dipikirkan, dialami, dikeluhkan, maupun dihadapi langsung.

Keterbukaan anak merupakan kunci dalam mengontrol anak secara tidak langsung. Orang tua, terutama ibu dapat mengetahui sejauh mana dan bagaimana perilaku anak dengan keterbukaan dan komunikasinya. Hal utama yang dilakukan ibu ketika mendengar cerita anak adalah tidak menggurui dan menghakimi. Anak diajak berdiskusi mengenai masalah yang dihadapinya, menelusuri penyebab, menawarkan berbagai solusi serta memberikan gambaran konsekuensi masing-masing solusi, dan akhirnya memastikan anak siap dengan pilihan solusinya.

Keterlibatan, perhatian, dan pendampingan yang diberikan ibu dapat membuat anak yakin bahwa ibu dapat diandalkan dalam melewati masa-masa sulitnya. Kehadiran ibu dalam berbagai kondisi anak meminimalkan anak mencari pelarian di luar rumah terutama aktivitas atau lingkungan negatif. Hal ini karena apa yang anak butuhkan sudah dipenuhi oleh orang tua.

Ibu milenial tidak dapat memaksakan anak untuk menuruti segala keinginan atau perintahnya. Anak-anak dari ibu milenial cenderung kritis, sehingga tidak serta merta selalu menuruti seperti pendidikan yang dilaluinya dulu. Anak-anak cenderung menanyakan alasan kenapa harus berbuat seperti yang ibu perintahkan. Seorang ibu milenial harus mampu menjawab secara logis alasan serta konsekuensi jika tidak melakukannya. Komuniksi menjadi bagian penting dalam pengasuhan karena seorang ibu dan anak dapat membangun bonding tanpa jurang pemisah meskipun ada kalanya keduanya saling memberikan privasi.

Memiliki ibu yang asyik menjadi dambaan setiap anak. Ibu dapat menjadi pendidik, pengayom, sekaligus teman berbagi. Ibu milenial pun harus menyesuaikan dunia anak, termasuk di tengah-tengah gempuran teknologi seperti gadget, handphone dengan berbagai fitur yang menarik, dan pendidikan yang mulai beralih dengan mengkombinasikan offline dan online. Sebagai orang tua, kita tidak bisa melarang anak-anak untuk tidak menggunakannya karena pada kenyataannya saat ini benda-benda tersebut sangat dibutuhkan. Hanya saja ibu harus pandai dalam mengkomunikasikan penggunaan teknologi dengan tepat.

Ibu dapat membangun kesepakatan dengan anak-anaknya dalam penggunaan teknologi. Selain itu, teknologi juga bisa diarahkan untuk yang lebih bermanfaat misalnya dalam mendukung pendidikan dengan mengakses situs-situs yang bermanfaat. Anak juga dibiasakan berdiskusi bersama terhadap hal-hal yang dilihat, dilalui, dirasakan, maupun dihadapi baik ketika bersama orang tua maupun saat bersosialisasi dengan lingkungannya sendiri.

Orang tua juga harus memiliki keahlian dalam menggunakan teknologi lebih baik dari anak. Hal ini untuk mengimbangi anak agar tetap dapat mengasuh dan mendampingi anak. Bahkan seorang anak dapat terasah kemampuan, minat, dan bakatnya di bidang teknologi. Dalam hal ini, orang tua wajib memfasilitasinya karena saat ini tidak bisa menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah formal. Sekolah formal hanya sebagian kecil dari lingkungan anak yang membangun masa depannya. Arahan dan pendampingan penuh dari orang tua, terutama ibu sangat penting di era milenial untuk menyiapkan generasi sesuai zamannya. Sudah banyak bukti bahwa sekolah formal tidak menjamin kesuksesan anak di masa depan.

Jumat, 23 September 2022

FASE

Hingga saat ini, kapan kamu berada di posisi paling terpuruk? Pernah terpikir tidak, bahwa hidup kita akan memiliki masa 'lembah' dan masa 'puncak'? 

Saya merasakan posisi paling terpuruk saat akhir 2010, akan tetapi prosesnya mulai tahun 2009. Waktu itu saya belum menyadari bahwa waktu mencapai puncak kembali dapat saya prediksi. Hal itu saya simpulkan dari kisah Nabi Yusuf, di mana ada masa panen selama 7 tahun dan masa paceklik yang juga 7 tahun. Pikiran saya pun melayang dari masa kecil saya hingga saat terpuruk. Saya menganalisis kapan saya berada di titik rendah, dan kapan saya di titik puncak. Jika dibuat grafik, maka periode ini digambarkan seperti gelombang.

Saya pun mengingat bahwa saya mencapai puncak, seperti prestasi dan kehidupan yang baik adalah di tahun 2003, sementara saya mulai melandai dan semakin menurun berada di tahun terendah yaitu 2010. Artinya selama 7 tahun (2003-2010) saya dari puncak menuju penurunan. Sementara itu dari 2010 hingga 2014 saya berjibaku dalam kehidupan, hingga 2015 keadaan mulai membaik. Di tahun tersebut saya merasa mulai menanjak (grafik mulai ke atas). 

Pada tahun 2016-2020 saya mendapatkan banyak hal baik, prestasi, rejeki, juga kehidupan yang lebih mudah. Di saat itulah saya merasa akan datang sesuatu yang membuat saya bersiap-siap untuk masa paceklik, artinya saya harus menyiapkan banyak hal untuk menghadapi berbagai kemungkinan terburuk. Hingga 2021, saya kehilangan kedua orang tua sekaligus. Di sisi lain, banyak kebaikan dan keberkahan datang bertubi-tubi. Setelah kehilangannya, adalah masa persiapan menghadapi berbagai tantangan kehidupan untuk beberapa tahun ke depan.

Ini bukan angka pasti atau ramalan tentang masa depan ya. Saya hanya menganalisis dari kehidupan saya pribadi. Mungkin masing-masing orang akan melalui fase yang berbeda, namun berada di puncak dan lembah itu sunatullah. Ibarat manusia tidak akan selamanya bahagia, pun tidak selamanya menderita, karena dunia itu fana. Saya sadar sepenuhnya bahwa Alloh sudah mengatur fase manusia, yang penting berusaha dan berdoa semaksimal mungkin, dan Alloh akan menggenapkan kekurangannya.

Jumat, 16 September 2022

KURINDU WAKTUMU

Waktu adalah hal sangat berharga yang diberikan seseorang kepadamu, karena waktu adalah sepotong kehidupannya yang ia relakan untuk dapat bersamamu. Kadang kita tidak menyadari bahwa ia sangat berarti hingga ia benar-benar pergi. 

Ada satu hal yang kadang tidak disadari tapi pasti, yaitu kematian. Ia bisa datang kapan saja dan tidak bisa dipastikan. Jika ia datang, artinya waktu bersama akan hilang, dan yang tersisa hanya kerinduan.

Pernah kehilangan? Pernah terpisah karena kematian? Jika pun terpisah tapi masih sama-sama di dunia, setidaknya masih bisa menemuinya. Tapi jika terpisah karena kematian, kerinduan adalah hal terpahit. 

Untukmu yang tidak lagi bersamaku, kurindu waktumu, kurindu bersamamu.
Dua jiwa, yang pernah menjadi tempat pulangku...


- Maora -

Mengenang dua jiwa, kedua orang tua
Bapak, 3 Agustus 1952 - 21 Juli 2021
Ibu, 21 Maret 1952 - 31 Oktober 2021
"Datang ke dunia di tahun yang sama, pun meninggalkan dunia tidak berselang lama"
 


Kamis, 04 Agustus 2022

MAORI

 


Maori - Sebuah novel yang diadaptasi dari kisah nyata. Kehadirannya dalam keluarga kami memberikan banyak pelajaran hidup. Inilah karya persembahan untuknya, karya sederhana untuk saudari tercinta, Maori Amalia Tanjung.

Masa kehidupannya telah mencapai 42 tahun hingga saat ini, dan entah sampai kapan takdirku bersamanya. Ia lahir dengan normal, namun sebuah insiden telah merenggut kemerdekaan hidupnya. Ia memiliki ketergantungan dengan kami. Itu sebabnya ia menjadi alasanku pulang.

Tertarik untuk membacanya? Bisa memesan di wa.me/+6287838259292

   

Jumat, 12 November 2021

AKHIR HAYAT

Kehilangan seorang ibu itu sama halnya dengan kehilangan surga, sedihnya luar biasa. Air mata bisa hampir tiap hari menetes mengingatnya. Di sisi lain, ada obat hati yang menenangkan ketika saya kehilangan seorang ibu yaitu beliau meninggal selepas sholat magrib, masih menggunakan rukuh dan memegang tasbih. Bahagia hati ini mendapati seorang ibu yang sudah bersusah payah membesarkan kami anak-anaknya telah meraih mimpi terbesar dalam hidupnya, husnul khatimah.

Saya saksi hidup ibu saya, bahwa selama hidupnya sholat merupakan kegiatan yang harus diutamakan. Sesibuk apapun harus diletakkan dan harus menyegerakan sholat. Dalam keadaan apapun juga seperti sakit. Selama 16 tahun menahan rasa sakit akibat jantung, ibu pun masih menyempatkan sholat malam. Di saat lututnya sangat nyeri beberapa tahun belakangan ini, tetap menahannya untuk dapat sholat dengan berdiri sempurna. Sabarnya luar biasa. 

Pasca kepergian Bapak, 21 Juli 2021 lalu, ibu baru menjalani sholat di atas tempat tidur. Sakit fisik yang bertahun-tahun, ditambah psikis kehilangan belahan jiwa, membuat beliau semakin drop. Akan tetapi tidak berpengaruh pada penurunan kualitas sholat meski harus tayamum. Thaharah? Ibu sangat-sangat menjaganya, bahkan sangat ragu menggunakan pampers karena kondisinya untuk meminimalisir gerak fisik agar cepat pulih. Setelah dijelaskan oleh kakak kami dan ditenangkan bahwa tidak mengapa menggunakannya, ibu pun bersedia. Akan tetapi tengah malam kami dikejutkan bahwa ibu sudah di kamar mandi, tidak bisa buang air jika menggunakan pampers. Alhasil, kami menawarkan ibu menggunakan pispot. Barulah ibu bisa menyesuaikan.

Semenjak kepergian Bapak, ibu masih sholat di tempat tidur. Pernah sekali mencoba, justru memperparah kondisinya, sehingga beliau kembali sholat di tempat tidur sembari duduk. Ibu paling lama duduk saat waktu sholat malam dan sholat magrib. Sholat malam biasa dikerjakan jam 3, dan seselesainya masih duduk dengan wirid sambil menunggu subuh. Selepas subuh pun masih duduk sambil wirid, zikir, dan membaca Al-Qur'an hingga waktu sholat dhuha. Barulah selepas dhuha sudah bisa beraktivitas duniawi. Sholat magrib pun lama, duduk menunggu sholat isya sembari mengaji dan zikir, kalaupun batal kemudian wudhu atau tayamum lagi dan kembali duduk. Begitulah selama ini.

Tepat 100 hari kepergian Bapak, Ibu pun menyusul. Beberapa hari sebelumnya tidak ada tanda-tanda sakitnya. Ibu lebih banyak tertawa dan becanda. Kakak sekeluarga yang dari Jogja pun sering menengok kami untuk memulihkan harapan hidup Ibu, sehingga sangat kaget beliau pergi dengan sangat cepat. Mungkin rasa rindu ibu lebih besar kepada Bapak...

Rasa nyeri sempat dirasakan Ibu. Kondisi tersebut hal yang biasa, sehingga Ibu selalu stok obat untuk dikonsumsi di bawah lidah. Biasanya kami memberikan waktu ibu untuk tenang, sambil sesekali ditengok. Detik-detik kepergian Ibu itu tidak kusadari. Ibu hanya mengeluh nyeri sehingga saya tawarkan mengolesi minyak sambil konsumsi obat. Ibu hanya bilang, "Aku tak sholat sik ya, Ndhuk (Aku sholat dulu, ya, Ndhuk)". Saya pun memberi waktu ibu untuk sholat, sesekali saya tengok di kamarnya. Saat saya tengok ke sekian kali, Ibu masih duduk sembari menahan nyeri, duduk menghadap kiblat lengkap dengan rukuhnya. Saya tinggal ke depan untuk cek hape, mungkin hanya sekitar 2 menitan, dan kembali lagi menengok. Kali ini ibu sudah baringan, saya panggil dari pintu, tidak ada jawaban atau menoleh seperti biasanya. Saya pun mendekat, cek nadi, semakin melemah dan sempat tidak berdenyut. Saya pun reflek memanggil-manggil Ibu sambil menelpon kakak yang di Jogja. Kakak langsung menelepon bidan, dan tak berapa lama datang karena beberapa blok dari rumah. 

"Pangapunten, Mbak, ibu sudah ndak ada (Maaf, Mbak, Ibu sudah tidak ada)"

Bayangkan, hanya beberapa menit saja. Ibu saya mudah kepergiannya, bahkan masih dalam keadaan beribadah. Saya bersyukur Alloh telah mengabulkan doa beliau untuk ditetapkan pada Agama Islam dan diakhirkan dengan husnul khatimah. Tinggal kami, anak-anaknya mengikuti jejaknya. Banyak-banyak berusaha dan berdoa untuk bisa sampai husnul khatimah.

Sabtu, 06 November 2021

SECUKUPNYA, SEKEDARNYA

Salah satu pendidikan yang diwariskan orang tua pada saya adalah hidup itu harus nerimo ing pandum, jangan serakah. Istilah Jawa itu sangat lekat dalam kehidupan kami, terutama yang terkait dengan materi. Bapak dan Ibu hidup prihatin meski memiliki materi yang lebih dari cukup, karena menyadari bahwa kelak harta yang diperoleh dan digunakan akan dihisab, sehingga orang tua memiliki mindset menggunakan harta untuk pendidikan dan sosial, untuk kehidupan sehari-hari itu secukupnya, sekedarnya, sewajarnya.

Hidup Bapak dan Ibu saya dari kecil prihatin dan berjuang. Seiring waktu, perekonomian pun membaik sehingga materi bukanlah masalah bagi orang tua. Akan tetapi karena mindsetnya "secukupnya, sekedarnya" maka tidak mengambil banyak dari apa yang sudah Alloh berikan. Keseharian tetap berusaha mengontrol penggunaan dana agar tidak digunakan sia-sia, selebihnya ditabung. Selain itu, orang tua selalu berpesan bahwa tidak perlu berharap warisan, materi, atau apapun dari orang lain. Hal ini menjadikan kami selalu berusaha memenuhi kebutuhan sendiri tanpa meminta sama orang lain. "Cukup minta sama Alloh", begitu kata Ibu.

Hingga saat ini, pendidikan itu tetap terpatri. Kalau bisa memberi, dan usahakan tidak meminta pada orang lain. Sesusah apapun, simpan rasa susah dan tetap bersyukur. Di dunia ini, kita mengambil secukupnya dan sekedarnya saja.

 

Senin, 24 Agustus 2020

BLUE LAGOON JOGJA ERA NEW NORMAL

Cultural landscape kawasan Sleman berupa geografis yang subur dan terletak di lereng gunung Merapi menyediakan berbagai keindahan panorama alam yang layak untuk dijelajahi sebagai wisata alam. Sebanyak 35 obyek wisata yang terdaftar di visitingjogja.com mayoritas merupakan wisata alami seperti candi, desa wisata, kawasan Kaliurang, dan sebagainya. Berdasarkan data resmi yang dipublikasi dari visitingjogja.com, sektor pariwisata di Sleman memberikan kontribusi besar bagi Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Sleman sebesar Rp 218.475.244.777,- dengan jumlah kunjungan wisatawan domestik sebanyak 7.606.312 orang dan 291.776 wisatawan mancanegara sepanjang tahun 2018.

Akan tetapi pandemi Covid-19 yang mulai mewabah di Jogja pada tahun 2020 cukup menghantam pariwisata di Jogja termasuk Sleman dan saat ini masih menghantui sempat menghentikan operasional hampir seluruh kawasan wisata termasuk fasilitas pendukung seperti hotel, biro perjalanan wisata, UMKM penyedia souvenir, rumah makan dan restoran, dan sebagainya. Dilansir dari media Kedaulatan Rakyat pada 12 April 2020, kerugian yang dialami sektor pariwisata DIY akibat dampak Covid-19 diperkirakan mencapai Rp 67,04 miliar, yang mencakup 1.207 unit usaha pada 15 jenis usaha pariwisata. Sektor destinasi wisata alam/budaya mengalami kerugian sebesar Rp 18,37 miliar, hotel dan MICE sebesar Rp 11,22 miliar, destinasi wisata buatan Rp 7,31 miliar, tour and travel sebesar Rp 5,48 miliar, dan desa wisata sebesar Rp 4,27 miliar. Dapat dilihat bahwa Covid-19 berdampak sangat buruk terhadap sektor pariwisata.

Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman telah membatalkan berbagai event yang telah direncanakan pada tahun sebelumnya dan mengalokasikannya dalam mendukung Gugus Tugas Covid-19 di Sleman sebesar 85 % untuk pembelian handsanitizer, westafel, APD, dan masker yang dibagikan ke 62 titik di seluruh wilayah Sleman.

Era new normal yang mulai digaungkan memberikan harapan kawasan wisata di Sleman untuk berbenah mengikuti protokol yang aman dalam berwisata. Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) bersama dengan Dinas Pariwisata Sleman mengupayakan untuk kembali membuka kawasan wisata secara terbatas, artinya membatasi jumlah pengunjung untuk menerapkan physical distancing, menyediakan tempat cuci tangan serta sabun atau handsanitizer di berbagai titik kawasan, dan mewajibkan penggunaan masker. Kawasan wisata yang resmi diujicobakan adalah kawasan terbuka seperti desa wisata dan candi. Hal ini juga sesuai dengan himbauan pemerintah pusat untuk menerapkan kawasan wisata secara terbatas di kawasan terbuka.

Kabupaten Sleman telah mengujicobakan 2 kawasan candi, Tebing Breksi, dan satu desa wisata dari 50 desa wisata yang ada di Sleman. Desa wisata pertama yang diujicobakan adalah Blue Lagoon yang terletak di Area Sawah, Widomartani, Ngemplak, Sleman. Dalam acara “Dialog Interaktif Peserta Press Tour-Blogger di Desa Wisata Blue Lagoon Dalam Rangka Ujicoba New Normal” pada 23 Agustus 2020 yang dihadiri Kepala Dinas Pariwisata, Dra. Sudarningsih M.Si.; Ketua BPPS 2016-2020, Guntur Eka Prasetya, SH., MKn, M.Par, Bapak Suhadi sebagai ketua pengelola Blue Lagoon, Dra. Esti Susilarti, M.Par selaku anggota BPPS, dan salah satu perwakilan dari Blogger menjelaskan bahwa new normal perlu disiplin dilaksanakan terutama oleh pihak penyedia wisata dan pengunjung untuk tetap aman berwisata dan menekan kasus Covid-19. Dalam rangka ujicoba tersebut, Dinas Pariwisata akan menindak tegas jika protokol kesehatan dalam new normal tidak dijalankan, termasuk menutup kawasan wisata. Acara ini juga dimeriahkan dengan beberapa pertunjukan budaya seperti Tari Gambyong, Tari Bondan, dan Gedruk Buto.

Blue Lagoon merupakan destinasi wisata yang diusung dalam konsep desa wisata ini resmi dibuka pada tahun 22 Maret 2015 dan diresmikan oleh Bupati Sleman. Tempat ini dikenal dengan tiga sumber mata air yang dapat digunakan sebagai pemandian. Awalnya tempat ini dinamakan Tirta Budi, namun airnya yang khas berwarna biru maka tempat ini lebih popular dengan nama Blue Lagoon. Untuk dapat mencapai lokasi, pengunjung dapat melewati jalur utama Jalan Kaliurang hingga km 13. Di pertigaan lampu merah Besi, ambil belok ke kanan sekitar 2,5 km (terdapat plang yang mengarah ke Blue Lagoon). Lokasi wisata ini tepatnya berada di dalam kampung. Blue Lagoon beroperasi mulai pukul 06.00-17.00 WIB.

Untuk dapat menikmati wisata, pengunjung cukup mengeluarkan tiket masuk sebesar Rp 5.000,-. selain itu dikenakan parkir untuk mobil sebesar Rp 3.000,- dan motor sebesar Rp 2.000,-. Fasilitas lainnya adalah kuliner, gazebo, mushola, penitipan barang, toilet yang bersih, dan homestay di sekitar kawasan yang memanfaatkan rumah penduduk. Di Blue Lagoon ini, para pengunjung dapat menikmati berbagai wisata, sekedar menikmati pemandangan alam yang indah dan asri, menyusuri kawasan Blue Lagoon yang tertata rapi, bahkan pengunjung dapat berenang di sumber air yang merupakan destinasi utama. Pada musim kemarau, sumber air tetap mengalir meskipun airnya tidak semelimpah saat musim penghujan.

Sebagai kawasan yang menerapkan new normal, Blue Lagoon telah menerapkan protokol kesehatan seperti penyediaan tempat cuci tangan dan sabun di beberapa titik terutama pintu masuk, mencuci tangan dengan sabun dan pemeriksaan suhu dengan thermo gun, mewajibkan setiap pengunjung menggunakan masker, dan pembatasan pengunjung.



















 

 

Sabtu, 04 April 2020

Mimpi Masa Tua

Apa yang ada di benak kita ketika melihat orang tua? Orang tua yang hidup sendirian, orang tua yang masih memiliki pasangan dengan kehidupan babagianya, orang tua yang hidup bersama teman-teman seusianya di panti jompo, dan kondisi masa tua lainnya.
Kita, terutama saya pasti memimpikan masa tua yang bahagia. Menghabiskan waktu tua bersama pasangan, melihat anak cucu yang hidup sukses, serta memiliki kegiatan positif dan produktif di masa tua.
Masa tua yang bahagia bisa kita usahakan dan desain mulai dari saat usia muda. Misalnya di masa tua nanti saya ingin punya usaha, maka mulai sekarang saya harus memiliki dan membangun bisnis sehingga nanti masa tua tinggal mengunduhnya. Meski masa depan unpredictable, setidaknya kita sudah menuju kesana.
Saat ini saya merintis usaha yang bernama Omah Nyulam, tidak sekedar produksi tas dengan sulaman tangan, namun juga usaha mengisi kosongnya waktu dengan hal menyenangkan. Bagi sebagian orang menyulam mungkin hal sulit, tapi bagi saya itu adalah terapi psikis dimana saya menemukan kegiatan itu saat stres, depresi, jenuh. Maka ketika saya mulai stres, saya memegang jarum dan benang sulam. Dua hal yang bisa saya capai dengan menyulam, stres berkurang, sekaligus produksi. Bahkan saya ingin lakukan kegiatan menyulam saat masa tua saya, sembari bercengkerama dengan pasangan, saya pun masih bisa produktif dan bahagia.
Itulah mimpi saya, bagaimana dengan Anda? 😊😊

Kamis, 10 Januari 2019

SEBATANG TEBU DAN SEBUAH LABU


Bulan Desember Jogja sudah mulai sering diguyur hujan. Sebagian besar pekerjaan telah kuselesaikan dengan baik. Liburan panjang pun sudah menanti. Kesempatan langka untuk menengok kampung halaman, pinggiran kota Klaten yang berbatasan dengan Boyolali. Jarak Jogja dengan Klaten memang dekat, dapat ditempuh selama kurang lebih 1,5 jam jika naik sepeda motor. Akan tetapi karena kesibukan yang sangat padat di Jogja, pulang pun menjadi sesuatu yang sangat jarang dilakukan, dan menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Aku bersyukur bahwa kepulangan kali ini masih diberi kesempatan melihat wajah ayah dan ibu. Wajah yang keriput namun paling kurindukan, terutama ibu. Teringat tantangan Jasmine Elektrik dalam event #JasmineElektrikCeritaIBU untuk menuliskan cerita tentang ibu, bertepatan dengan peringatan Hari Ibu di bulan Desember meskipun bagiku setiap hari adalah hari ibu. Begitu banyak kenangan yang hingga kini masih kuingat jelas tentang ibu. Kehidupan yang sederhana namun dermawan, lembut namun disiplin, penyabar, tangguh, dan hangat yang membuat orang lain nyaman setiap berada di sisinya.
Kuluangkan waktu untuk menjelajah setiap tempat bermain saat aku kecil. Tempat yang sudah jarang dijamah anak-anak jaman sekarang, persawahan yang terletak di bagian selatan kampungku. Persawahan tersebut cukup luas, dibagi menjadi dua bagian, sisi barat dan timur yang dipisahkan dengan jalan setapak selebar 2 meter dan panjang 500 meter, yang merupakan pemisah antara kampungku dengan kampung tetangga. Jalan setapak itulah tempat yang paling sering kususuri bersama teman-teman saat kecil, bermain layang-layang di pematang sawah, atau melihat teman-teman yang laki-laki bermain sepakbola di sawah yang sudah selesai panen dan belum ditanami.
Aku berdiri memandang hamparan hijau tanaman. Sebagian besar ditanam padi, dan beberapa petak sawah ditanam tebu. Tidak banyak yang berubah, hanya suasananya yang sepi, jauh dari suara tawa anak-anak bermain seperti dulu. Handphone dan gadget telah menyandera budaya permainan tradisional seperti masa kecil kami. Aku tidak menyalahkan teknologi, hanya menyayangkan kurangnya kebijaksanaan dalam menggunakannya. Kususuri jalan setapak perlahan-lahan, hanya terlihat dua orang petani yang menyambangi tanah sawahnya. Rerumputan liar tumbuh subur di pinggir jalan setapak, menandakan tak ada injakan yang menghalangi tumbuhnya. 
Hal yang paling kuingat saat di sawah adalah proses memanen tebu. Hal yang menurutku sangat menyenangkan karena suasana ramai dan banyak orang. Berderet-deret truk parkir di pinggir jalan dekat sawah untuk mengangkut tebu menuju penggilingan. Kami menunggu hingga selesai panen, bahkan melihat area sawah bekas menanam tebu yang dibakar. Momen setelahnya sungguh unik, teman-teman mencari sisa-sisa tebu untuk dimakan.
Pada awalnya aku hanya suka melihat, karena sebagian para orang tua di kampung berpesan,
“Jangan mengambil tebu, nanti kamu dibawa ke pabriknya”.
Hal yang menakutkan bagi anak kecil sepertiku. Akan tetapi semakin besar usiaku membuat penasaran dengan rasa tebu. Saat usiaku menginjak 8 tahun dan merasa sudah besar, aku bermain agak jauh bersama teman-teman, meskipun tetap di persawahan. Kali ini aku terprovokasi untuk mengambil sebatang tebu sisa panen seperti teman-teman lainnya. Sore sudah mulai sepi dan hanya aku dan teman-teman. Aku pun mengambil sebatang tebu dan membawanya pulang karena tidak ada alat untuk mengupasnya.
Sampai rumah pun ibu mengamatiku dan tebu yang kubawa,
“Kamu mendapat tebu dari mana?” tanya ibu lembut.
Kemudian kuceritakan asal mula tebu yang kubawa pulang. Ibu menghela nafas,
Nduk, meskipun tebu itu tebu sisa, kamu tidak boleh mengambilnya karena kamu tidak meminta izin pada yang punya. Meskipun kata orang ini adalah tebu yang sudah tidak layak untuk dibawa ke pabrik, namun kamu tetap tidak berhak atasnya. Mengambil tanpa izin artinya mencuri,” ibu menjelaskan dengan bahasa yang mudah kupahami.
Setelah menjelaskan itu, ibu memintaku untuk mengembalikannya di tempat semula. Sore sudah beranjak ke petang, maka kukembalikan di hari berikutnya. Sepulang sekolah, kususur lagi jalan menuju sawah tempat dimana sebatang tebu itu kuambil. Kuletakkan di tempat semula tebu itu. Siang yang terik membuatku segera pulang. 
Hal yang serupa terulang selang beberapa bulan berikutnya. Aku membawa pulang sebuah labu yang tergeletak di semak-semak sepulang sekolah dari Taman Pendidikan Al’Quran (TPA) di kampung tetangga. Kampung itu berjarak sekitar 3 km dari rumah, dan TPA kutempuh dengan berjalan kaki bersama teman-teman satu kampung yang berjumlah 4 orang seusai pulang sekolah. Hampir setiap hari kami berjalan untuk menuntut ilmu agama.
Suatu hari, teman dari kampung di TPA tempat kami mengajar, menunjukkanku jalan pintas untuk pulang. Jalan yang melalui persawahan dengan pemandangan yang indah meskipun harus menyusuri pinggir sungai yang dalam. Di sekitar sungai itulah aku melihat beberapa labu di tanah. Kata teman yang mengantarkan kami, tanaman labu itu tak bertuan, tidak ada yang pernah mengambilnya dan akhirnya membusuk. Aku berpikir sayang sekali kalau hanya terbuang, maka kuambil satu dan teman-teman sekampungku pun mengambil juga.
Sampai rumah pun ibu menanyakan asal muasal labu itu. Labu yang sudah matang berwarna kuning cukup siap untuk dimasak. Lagi-lagi ibu menjelaskan panjang lebar tentang pentingnya meminta izin, dan pada akhirnya aku harus mengembalikan labu itu ke tempatnya. Sejak saat itulah setiap meminta aku akan mencari pemiliknya, bahkan ini berlaku saat di dalam rumah. Uang serupiah yang tergeletak di meja pun tidak akan hilang karena kami pasti akan meminta izin jika ingin mengambilnya.
Jika aku mengingat momen-momen itu, yang bahkan sudah hampir 27 tahun, aku baru menyadari bahwa kasih sayang ibu tak terbantahkan waktu. Kasih sayang yang dituangkan dengan pendidikan sejak dini. Pendidikan seorang ibu yang hingga detik ini sangat melekat dalam hati dan terpatri dalam ingatan. Pendidikan untuk menggambarkan betapa pentingnya izin yang menjadi sahnya kepemilikan. Seorang ibu yang berjuang menjaga putrinya menjaga adab dan menempatkan diri menjadi madrasah utama bagi anak-anaknya. Pada akhirnya aku memahami bahwa tujuannya adalah menjauhkan diri dari mengambil hak orang lain tanpa izin sehingga budaya meminta izin sangat lekat dalam kehidupan sehari-hariku.
Bahkan hingga detik ini, aku masih sangat menjaga agar tidak ada makanan yang masuk tanpa jelas asal muasalnya, atau menyimpan barang yang bukan milik sendiri tanpa izin pemilik. Aku pun mengikuti jejaknya, mengajarkan anakku untuk terbiasa meminta izin, meskipun kepada orang tua sendiri. Hanya sebatang tebu dan sebuah labu, namun cukup mengajariku tumbuh menjadi anak yang pantang menyandera hak orang lain, serta mengenal halal dan haram.

#JasmineElektrik  #JasmineElektrikCeritaIBU #MimpiIIIBU

Sabtu, 01 Desember 2018

MENIKMATI PERAN

Menjadi ibu itu tantangannya super kompleks, terutama saat membersamai anak dalam pertumbuhannya. Sesuatu yang baru, atau tempat yang baru menjadi semacam uji nyali untuk anak. Di sisi lain menjadi ketakutan bagi ibu bagaimana anak menghadapinya, oleh karena itu penting untukku mengenalkan sesuatu yang baru sekaligus memberikan edukasi dalam tumbuh kembangnya. Saya rasa sangat eman untuk melepaakan masa-masa berharga ini.

Jadwal renang kali ini yang biasa di Griya Alvita pindah ke Kolam Renang UNY. Ini tempat yang pertama kalinya dikunjungi, pun melepaskan anak di tempat ini tidak bisa. Bukan karena tidak tega, tapi karena rawan untuk anak-anak yang rasa ingin tahunya lebih tinggi. Kolam renang dengan 4 lokasi memiliki kedalaman yang bervariasi yaitu 50 cm, 1 m, 1-5 meter, dan 7 m. Inilah yang riskan untuk anak-anak mengingat usianya yang baru 10 tahun pasti ingin mencoba segala sesuatu yang baru.

Akhirnya dengan berbesar hati sejenak meletakkan pekerjaan yang seharusnya pagi ini selesai, demi mendampingi dan mengawasi keamanannya.

Selesai renang, dilanjutkan dengan mencoba tempat baru yang sangat ingin dikunjungi anak lelakiku, Masjid UGM. Sejak keberangkatan menuju kolam renang tadi pagi, menara masjid yang menjulang tinggi cukup menarik perhatiannya. Sekilas menjelaskan bahwa masjid itu sangat indah. Ketertarikannya menjadi peluang besarku, sehingga selain keinginan menjelajahi tempat baru, ingin rasanya mengenalkan suasana masjid di Jogja satu per satu. Menyiapkannya menjadi seorang imam kelak di masa depan.

Ingin menjadikan hatinya terpaut pada masjid, yang kelak menjadi penolongnya di padang Mahsyar. Kadang sebagai seorang ibu, aku merasa menjadi orang yang sangat keras dan tidak sabaran, tapi aku ingin dia tahu kelak suatu hari bahwa semua yang kulakukan adalah untuk mendidiknya dan untuk kebaikannya.

Sebenarnya aku sangat ingin fokus untuk mendampinginya menghadapi tantangan zaman, dimana saat ini semakin banyak hal yang riskan yang mempengaruhi dalam tumbuh kembangnya, namun kondisi tetaplah menuntutku harus pandai membagi waktu. Aku ingin menikmati waktu untuk membersamainya sekaligus sebagai wanita karir. Keseimbangan yang sangat sulit dicapai tanpa gigih dan disiplin untuk menjalankan komitmen tersebut.

Laa haula walaaa quwwata illaa billah.

Sabtu, 17 November 2018

AKAN SAMPAI PADA MIMPIMU, NAK!


Menjadi perempuan karir sudah pernah didiskusikannya dengan suami. Riana, yang merupakan lulusan kedokteran, spesialis Ginekologi bercita-cita mengabdikan dirinya dalam dunia kedokteran.

“Aku ingin melindungi para perempuan agar tidak tersentuh dengan yang bukan mahram. Para perempuan saat ini sangat rentan dengan pelecehan”, ungkapnya suatu malam dengan suaminya.

“Aku mendukungmu. Tapi bagaimana dengan generasi kita? Aku ingin kamu bisa mendidiknya dengan tanganmu sendiri,” tanya suaminya.

“Insya Allah aku akan berusaha menyeimbangkan, menjalankan pengabdianku sebagai ibu dan istri, juga pengabdian untuk masyarakat,” jawabnya mencoba meyakinkan suaminya.

“Baiklah kalau itu keputusanmu dan kamu bisa menjalankan, aku bisa mendukung. Namun nanti jika di tengah jalan ada ketidakseimbangan, aku berharap kamu lebih memilih memprioritaskan mendidik anak-anak,” kata suaminya.

“Baiklah,” kata Riana. Suaminya mengecup kening Riana, mengakhiri diskusi malam dengan santun.

Suami Riana, Rudi yang juga seorang dokter, sangat paham dengan karakter Riana. Rudi mengetahui tentang Riana selama masa perkuliahan 4 tahun terakhir. Riana memang menjadi buah bibir di gedung perkuliahan spesialis, selain cantik, juga sangat cerdas. Rudi menyimpulkan bahwa Riana sebagai orang yang gigih berjuang, berambisi mencapai sesuatu yang menjadi prinsipnya, juga orang yang bisa diandalkan. Ini terbukti dari berbagai tugas yang diberikan dosen maupun nilai akademis yang memuaskan sehingga Riana selalu menduduki peringkat tertinggi dalam studinya.

Rudi memang menaruh hati kepada Riana, namun ia merasa minder karena merasa orang biasa yang berjuang untuk mengangkat derajat keluarganya menjadi seorang dokter spesialis penyakit dalam. Akan tetapi Riana bukanlah orang yang ramah dengan laki-laki, meski banyak yang menyukainya. Ia sangat cuek dan menjaga jarak dengan yang namanya laki-laki, tidak heran jika ia sering terlihat jutek dengan para laki-laki. Justru ini yang semakin membuat Rudi jatuh hati, Riana bukan perempuan gampangan.

“Kamu kenapa sih Ri? Tiap ketemu cowok pasti jutek?” tanya salah seorang teman dekatnya, Ari.

“Entah, aku gak suka aja. Kayaknya banyak modus.” Jawab Riana sambil tertawa.

Ari pun hanya melengos, mendengar jawaban Riana yang dinilai asal. Bahkan niatnya menjodohkan dengan kakaknya yang menaruh hati pada Riana pun urung. Riana yang beberapa kali mengerjakan tugas di rumah Ari cukup membuat kakaknya, Heri, jatuh hati. Wirausahawan muda yang sangat mandiri, tampan, dan kaya itu menjadi incaran banyak perempuan. Saking kayanya bahkan biaya sekolah Ari menjadi tanggungan sepenuhnya kakak lelakinya itu.

Kegigihan Riana membuahkan hasil, menjadi lulusan terbaik dengan waktu paling cepat. Panggilan kerja di salah satu rumah sakit terkenal di Jogja membuatnya merasa sangat bersyukur. Allah telah mudahkan jalannya meniti menuntaskan pendidikan melalui beasiswa, pun mendapatkan pekerjaan sesuai dengan passion-nya.

Usianya memang hampir menginjak 30 tahun, namun keinginan berkeluarga belumlah ada. Hal ini karena ia masih ingin membahagiakan orang tuanya yang sudah renta. Ia, yang merupakan anak sulung ingin menghajikan orang tua sebelum dipanggil Allah. Maka dengan sekuat hati ia menabung.

“Ibu ingin melihatmu menikah, ada yang menjagamu saat ibu atau ayah tidak ada.” Ungkap ibunya suatu malam.

“Yang jaga kan Allah, Bu. Insya Allah nanti kalau sudah waktunya jodoh akan datang kok, Bu,” jawab Riana berkilah dengan lembut.

Ibunya hanya menghela nafas panjang, merasa tidak ada gunanya berdebat dengan Riana. Ibunya sangat tahu jika Riana tidak menginginkan sesuatu dan dipaksa maka hasilnya tidak baik. Akhirnya ibunya hanya banyak berdoa, mengirimkan seorang laki-laki soleh untuk Riana.

Dua tahun praktik di rumah sakit, Riana banyak mendapatkan curahan hati mengenai pengalaman para pasiennya yang tidak menyenangkan. Pengalaman periksa dengan dokter Ginekologi yang seringnya laki-laki dan memberikan kesan yang tidak menyamankan. Hal itu membuat Riana bertekad kelak untuk mendirikan praktik sendiri demi menjaga dan melindungi hak-hak perempuan.

Tahun ketiga Riana bekerja, beberapa teman seangkatan terlihat praktik di rumah sakit yang sama, termasuk Ari. Pertemuan yang membuat Riana merasakan teman seperjuangan. Ari pun merasakan mendapat guru dalam menjalankan pekerjaannya. Saat itu pulalah meja operasi menjadi media pertemuan dengan Rudi.

Riana memang tidak mengenal Rudi, tapi berbeda dengan Rudi yang telah menyimpan mimpi untuk Riana. Awal pertemuan memang dirasakan bahwa Riana sangat dingin terhadapnya. Namun seiring waktu dengan banyak kasus yang terjadi, Riana terpaksa banyak  berdiskusi dengan Rudi. Beberapa kerjasama dalam operasi sering dilakukan, mendiskusikan hasilnya dan membuat penemuan-penemuan baru.

Riana terlihat mulai ramah terhadap Rudi, bahkan menghabiskan istirahat siang bersama dengan berdiskusi. Namun Riana masih tetap Riana yang dulu, menutup hati untuk menjalin komitmen, menetapkan tujuan dalam rule yang disepakati hatinya.

Sebenarnya Rudi sudah berkali-kali memberikan kode untuk serius dengan Riana, namun tidak juga ditanggapi Riana.

“Aku mencintai seorang perempuan, yang ketika melihatnya aku sangat menginginkannya menjadi pendampingku,” dia bercerita kepada ibunya.

Perempuan tua itu menjadi orang yang paling perhatian jika Rudi sudah bercerita. Pun sebagai anak satu-satunya, waktunya telah ia habiskan untuk mendidik Rudi dengan baik. Dengan kehidupan sederhana, Rudi bukanlah orang yang  suka bercerita tentang hal-hal yang tidak serius. Kehidupannya mengajarkan untuk menghargai hidup, tidak main-main dengan waktunya, dan menjaga benar ucapannya.

“Kamu mengenalnya dengan baik?” tanya Ibunya.

“Ya, sejak 7 tahun yang lalu aku sering mengamatinya. Rudi tidak punya banyak kriteria untuk calon menantumu, Bu. Tapi solehahnya insya Allah ada padanya”  

“Oh, ya? 7 tahun bukan waktu yang sebentar kamu menaruh hati pada satu perempuan. Apa yang menghalangimu mendapatkannya?”

“Aku sudah mencoba menarik perhatiannya. Mencoba memberikan semacam tanda bahwa aku suka, tapi sepertinya dia tidak menyukaiku”

“Nak, jangan datangi perempuannya. Datangi walinya,” nasehat ibunya.

Rudi hanya menunduk dalam-dalam, menyadari langkahnya yang terburu-buru.

“Nanti malam sholat tahajud dan istikharah sama ibu,” ucap ibunya sambil mengusap-usap bahu Rudi, menyadari bahwa ada kegalauan berat tersimpan dalam hatinya.

Kamu akan sampai pada mimpimu, Nak. Insya Allah.

Ucap ibunya dalam hati. Maka mulai malam itu adalah malam-malam perjuangan Rudi dan ibunya. Memohon pada Rabb untuk satu permintaan mulia, menyempurnakan agamanya.

Tiga minggu kemudian Rudi membuka percakapan,

“Bolehkah aku mengunjungi orang tuamu bersama ibuku?” tanya Rudi santun

Riana sedikit membelalakkan matanya, kaget luar biasa, namun seketika ia bisa mengontrol rasa keterkejutannya.

“Keperluannya apa ya?” Riana berpura-pura menanyakan, padahal sudah lama memang ia paham gelagat Rudi yang menyukainya, namun ia berusaha cuek karena mengingat komitmennya.

“Kami ingin bersilaturahmi, menjalin hubungan dua keluarga dengan baik” jawab Rudi. Jawaban diplomatis yang cukup membuat Riana mengakhiri pembicaraan.

“Baiklah. Akan kutanyakan orang tuaku kapan mereka siap. Akan kukabari waktunya”

Riana berlalu sambil berpura-pura seperti biasanya, yang jutek dan dingin. Meski Rudi tahu Riana sedikit salah tingkah. Itu membuat Rudi tersenyum.

Akhirnya pertemuan kedua keluarga dijadwalkan. Pembicaraan diawali dengan perkenalan keduanya, hingga fokus pada tujuan utama pertemuan.

“Secara baik-baik, saya ingin melamarkan keponakan saya untuk Riana,” kata paman Rudi.

Rudi memang anak yatim, ayahnya telah meninggal dalam kecelakaan kerja sepuluh tahun silam. Karena itulah ia sangat mencintai ibunya, sebagai orang tua satu-satunya.

“Kami tidak bisa menjawabnya, anak kamilah yang memiliki hak dalam hal ini,” jawab ayah Riana

Ibunya masuk memanggil Riana, kemudian duduk di samping ibunya sambil menunduk.

“Bagaimana, Nduk? Nak Rudi ingin meminangmu. Apakah kamu bersedia?” tanya ibunya.

“Sebenarnya Riana mau, Bu. Tapi Riana telah berjanji untuk menghajikan ibu sama ayah dulu  baru menikah” jawab Riana masih dengan menunduk.

Nduk, ndak apa-apa kamu menikah dulu. Insya Allah masih ada waktu, Allah akan mudahkan niatmu terlaksana” ucap ibu, yang diiyakan oleh ayahnya.

Riana lama diam. Bimbang untuk menjawab. Setelah didesak akhirnya ia menjawab,

“Baiklah kalau itu ridho ibu dan ayah, Riana bersedia”

Rudi pun berucap syukur penuh dalam hati. Doa ibunyalah yang membuka kemudahan baginya.

Tak lama untuk melangsungkan pernikahan, Rudi dan Riana bersepakat mengadakannya dengan sederhana. Beberapa anak asuh Rudi juga menjadi pelengkap para tamu yang mendoakan kelanggengan hubungan mereka.

Sujud syukur bahwa tujuh tahunnya adalah doa yang menjadi kenyataan. Ibunya pun menjadi andil dalam kehidupan Rudi.

“Ada hadiah untuk ibu dan ayah,” kata Rudi seminggu kemudian.

Kejutan yang tak pernah Riana bayangkan. Hadiah terbesar dalam pernikahannya. Mencari ridho orang tua maka mendapatkan ridho Allah. Benarlah yang diriwayatkan Riwayat Ath Thabarani dan dishahihkan oleh Al Hafidz As Suyuthi bahwa ridha Rabb terletak pada ridha kedua orang tua dan murka-Nya terletak pada kemurkaan keduanya.

Keduanya telah mendapatkan ridho orang tua, maka mereka sampai pada mimpi masing-masing.

“Akan sampai pada mimpimu, Sayang.” Ucap Rudi sembari mengecup kening istrinya.

Doa yang sama untuk istrinya, bahwa karena ia tahu bahwa ridho suami adalah kemudahan bagi istrinya.