Rabu, 04 April 2018

IBU, KAU YANG SERING TERLUPA

Sebuah puisi untuk ibuku tercinta....

Ibu
Engkau tidak pernah lelah
Tidak pernah sekalipun mengeluh lelah
Engkau tetap menunggguku pulang, saat aku pergi kemanapun
Engkau tetap mendoakanku dalam setiap sujudmu, bahkan di sepertiga malammu
Tidak terlewatkan begitu saja
Meski aku lelah saat itu, engkau tetap tersenyum

Ibu
Setiap suapan yang engkau berikan, ada jutaan keikhlasan doa tertuang
Lelahmu semoga menjadi amal
Dalam tangis yang engkau sembunyikan
Dalam luka yang engkau tahan
Disana hanya untuk bahagiaku

Ibu
Waktu begitu cepat berlalu
Seperti baru kemarin engkau menggendongku, memelukku
Namun, saat ini ketika aku dewasa
Bahkan sekedar menghubungimu seolah tak ada waktu
Disana aku tahu engkau menunggu kabarku
Bahkan...selalu engkau terlebih dahulu menyapaku

Ibu
Waktumu sekarang begitu sempit
Masa tuamu sekarang begitu cepat datang
Aku masih ingin memelukmu, mendengar rintihan doamu saat ku memegang tanganmu yang semakin berkerut
Melihat senyummu menyambut kepulanganku

Ibu
Yang kutakutkan adalah aku tak di sisimu saat pergimu
Yang kutakutkan adalah saat pulang tak lagi menemukan senyummu
Yang kutakutkan adalah tak sempat meminta maafmu

Jika boleh, aku ingin menemani masa senjamu
Seperti engkau menjagaku saat kecilku
Menenangkanku saat gundahku

Ya Rabb..
Panjangkan usia ibuku
Aku sangat ingin menghabiskan waktu membaktikan diriku
Menemaninya hingga menemui-Mu


***

Selasa, 03 April 2018

LUPIS UNTUK RENGGANIS


Setiap jiwa akan menemukan senjanya
Satu jiwa dengan jiwa yang lain terhubung dalam benang waktu
Tersusun dalam kepingan-kepingan kehidupan
Hingga tiba masanya, satu diantaranya akan pergi dan menghilang

***

Kami bertiga tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana. Aku, Emak, dan adikku, Rengganis. Hidup yang dibilang sangat kekurangan bagiku sejak bapak meninggal 3 tahun yang lalu, saat aku masih kelas 3 SMP.
Sangat berbeda dengan Emak. Baginya, meski sangat sulit tapi senyumnya tak pernah lepas ketika memandang kami. Aku tak pernah melihat Emak menangis sedih atau mengeluh. Emak selalu bersyukur dengan hidup yang kami jalani. Pun ketika tak sesuai keinginan, Emak tetap berprasangka baik kepada Sang Pencipta bahwa kehidupan yang Allah berikan sarat kenikmatan.
“Kita masih bisa bernafas, Nduk. Fisik kita masih lengkap, untuk melakukan banyak hal berguna. Tak baik mengeluh”, begitu selalu nasehat Emak ketika kami rewel atau mengeluh tentang kondisi kami.
Kami pun hanya diam. Mengiyakan apa yang dikatakan Emak agar tidak durhaka.
“Emak besok jualan lupis lagi?”, tanyaku.
“Insya Allah. Bantu Emak ya, Aini”, pinta emak, dan aku pun mengangguk cepat.
Ya, Emak memang penjual lupis untuk menghidupi kami. Jika dihitung secara logika, sebenarnya keuntungannya sangat sedikit. Bagiku memang sulit memahami bagaimana bisa Emak masih bisa menyekolahkan dan mencukupi berbagai kebutuhan kami.
“Itu berkah, Nduk. Kalau kita bisa hidup jujur dan banyak bersyukur pada Allah, Dia yang akan mencukupi semua kebutuhan kita.”
Sulit bisa memahami penjelasan Emak. Mungkin karena usiaku yang masih sangat muda. Hal yang tak pernah terlewatkan Emak adalah shalat lima waktu dan shalat malam. Sembahyang shalat lima waktu yang sering kulihat tepat waktu.
Nduk, jaga shalatmu. Dimanapun, kapanpun. Allah akan sayang, akan ridho. Hidup terasa ringan”, nasehat Emak di sela-sela membuat lupis.
Emak memang pandai membuat lupis karena sejak kecil membantu ibunya, atau nenek. Bahkan membantunya berjualan di pasar dan ketika nenek tidak lagi berjualan maka Emaklah yang menggantikannya. Sesudah menikah dengan Bapak pun, Emak tak berhenti berjualan lupis.
“Emak bersyukur dulu Bapakmu tidak melarang Emak berjualan lupis. Bapak senang dengan kesenangan Emak ini. Setidaknya ada jalan dari Allah untuk rezeki kita”, begitu cerita Emak yang tidak bosan mengenang Bapak.
Rengganis, adikku satu-satunya yang saat ini berusia enam tahun, paling suka lupis Emak. Hampir tiap hari makan, tapi tak pernah merasa bosan.
“Enak”, itu satu-satunya alasan yang tidak berubah selama ini kenapa sangat suka lupis Emak.
Suatu ketika Emak tidak membuat lupis karena memang sedang libur dan lelah. Seperti biasa Rengganis pun hanya dibelikan di pasar ketika minta, tapi tidak mau makan.
“Aku hanya mau lupis Emak”, rengeknya.
Mau tidak mau Emak membuatkan khusus hanya untuknya. Sejak saat itu, berjualan atau tidak, Emak selalu membuat lupis, hanya untuk Rengganis.
Pukul 3 dini hari, Emak terbiasa bangun. Shalat malam menjadi aktivitas pertama setelah bangun. Emak selalu mengajarkan untuk mengutamakan Sang Pencipta,
“Kalau kita mendahulukan yang punya hidup kita, Insya Allah kita juga akan diperhatikan dulu, Nduk”, itulah alasan Emak selalu mengutamakan shalatnya.
“Ya, Mak”, jawabku sambil menahan kantuk.
Aku melihat pagi ini Emak terasa berbeda, wajahnya terasa lebih segar dan bercahaya. Aku pikir itu karena Emak sering wudhu.
Emak biasa berangkat ke pasar pukul setengah 6 pagi, menyediakan beberapa potong lupis sebelum berangkat selagi Rengganis masih tidur. Setelahnya, aku pun bersiap-siap untuk sekolah sembari membangunkannya, untuk mandi dan bersiap-siap menyusul Emak.
Setelah kepergian Bapak, Emak berperan ganda, mencari nafkah dan mengurus kami. Adik sering ikut ke pasar untuk berjualan ataupun berbelanja bahan lupis. Aku mengantarnya menyusul Emak di pasar, sebelum berangkat ke sekolah yang letaknya memang berdekatan. Meski nenek masih ada dan menawarkan untuk merawat cucunya, namun Emak bersikeras bahwa anaknya adalah tanggung jawabnya.
“Anis sudah makan lupis Emak?”, begitu tanya Emak ketika melihat kami datang.
Rengganis pun mengangguk dan tersenyum, langsung duduk menempel di samping Emak. Dia memang sangat dekat dengan Emak.
“Berangkat ya, Mak. Assalamu’alaikum”, ucapku sambil pamit dan mencium tangannya.
“Wa’alaikumsalam. Hati-hati, Nduk, yang rajin”, ucap Emak, dan aku masih melihat wajahnya yang sumringah seolah tanpa beban.
Di tengah-tengah pelajaran berlangsung, hatiku merasa tidak enak. Firasat buruk tiba-tiba muncul. Kenapa kepikiran Emak?
 Satu jam kemudian pintu diketuk. Laki-laki dengan hem putih, pakaian rapi. Guru kami pun keluar, dan mengobrol sebentar di luar kelas. Kelas tiba-tiba gaduh, seperti biasa jika tidak ada guru.
Kemudian masuk lagi guru kami, memanggilku,
“Nuraini, bisa ikut Bapak sebentar?”, hatiku semakin tidak karuan. Pasti terjadi sesuatu.
Benar saja, kabar duka pagi ini kudengar seperti firasat burukku. Emak kecelakaan ketika pulang dari pasar, dan saat ini di rumah sakit. Kami, aku dan laki-laki muda yang entah siapa, segera menyusul Emak ke rumah sakit membonceng motornya. Sepanjang perjalanan tak hentinya aku berdoa, disertai rasa khawatir yang sangat.
Kulihat seorang dokter wanita muda melihat kedatangan kami, dan tersenyum. Ia yang menangani Emak kami, begitu kata laki-laki muda yang mengunjungi guruku di sekolah tadi.
“Aini, bisa ikut dokter ya”, ucap laki-laki itu. Dokter itu pun berjalan di depanku menuju ruangan Emak dirawat.
Dari kejauhan, aku melihat adikku sedang duduk, ditemani seorang wanita muda. Rengganis langsung lari mendekapku begitu tahu kedatanganku. Menangis sekencang-kencangnya dalam dekapan. Aku menenangkannya dan meyakinkan bahwa Emak akan baik-baik saja.
“Anis tidak apa-apa?”, tanyaku, pun sambil menahan tangis, mengusap air mata di wajahnya. Aku bersyukur begitu mendengar penjelasan perawat bahwa Rengganis hanya luka lecet di tangan dan kakinya setelah diperiksa.
Aku melihat wanita muda itu mendekat,
“Maafkan aku. Aku yang tidak sengaja menabrak ibu kalian”, dan adik pun histeris dengan wanita itu. Aku hanya bisa memeluk adikku, entah apa yang akan kukatakan lagi, sementara aku pun tak dapat menahan sedihku.
“Allah...jaga Emak”, doaku dalam hati.
Tiba-tiba kulihat kegaduhan di ruangan ICU, tempat Emak ditangani. Aku mulai pasrah jika sesuatu yang buruk terjadi.
Dokter wanita yang tadi menyapaku, mendatangiku, dan memeluk kami.
“Yang sabar ya, Sayang”, kali ini aku tak dapat menahan lagi air mataku. Adikku kembali histeris, tiba-tiba hanya gelap dalam pandanganku.
Ketika membuka mata, aku sudah di rumah. Para tetangga sudah menyiapkan semuanya untuk pemakaman Emak.
Kulihat nenek mendatangiku, memelukku erat. Tak ada kata yang keluar.
Aku mencoba bangkit, mengambil air wudhu, hendak menyolatkan Emak. Adikku dalam gendongan kakek, masih sesenggukan. Lama kupandangi wajah Emak yang terlihat bersih dan tenang.
Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 2, sudah saatnya kafan untuk ditutup. Aku meminta waktu beberapa menit untuk aku dan Emakku terakhir kalinya. Kali ini aku memandanginya cukup lama,
“Emak...” ucapku sambil mengusap tangannya yang hitam dan keriput. Kukecup keningnya untuk yang terakhir kali.
Mengantarnya menuju peristirahatan terakhir. Terduduk di samping tanah yang sudah bernisan dan mendoakannya. Rengganis hanya duduk diam bersandar di lenganku, masih dengan tangisannya. Aku memandanginya, ikut berurai air mata ketika melihatnya. Hanya bisa kupeluk dan kuusap kepalanya yang mungil di samping makam Emak.
“Kamu masih terlalu kecil kehilangan Bapak dan Emak, Anis”, ucapku dalam hati.
Kulepas pelukannya, dan dia hanya memandangku. Dengan matanya yang sembab dan sesenggukan, ia hanya berucap satu kalimat,
“Aku kangen lupis Emak”. Aku hanya memeluknya lagi, dan menangis keras. Tak tahu lagi harus menjawabnya apa untuk menenangkannya, juga menenangkan hatiku sendiri.

-----

Senin, 02 April 2018

MEMBANGUN KARAKTER BANGSA MELALUI TULISAN

Sebuah esai tentang "Aku, FLP, dan Dakwah Kepenulisan"

Masyarakat Indonesia saat ini berada pada zona kehidupan yang nyaman, termasuk di Yogyakarta. Zona nyaman sebenarnya bukanlah sebuah ukuran kesejahteraan yang mutlak karena justru dengan zona nyaman maka mawas diri menurun, lengah, tingkat belajar berkurang sehingga tidak bisa berkembang menjadi lebih baik, malas bergerak menghadapi tantangan dan sebagainya. Pola kehidupan seperti ini akan menurunkan karakter seseorang dalam berjuang. Bahkan saat ini masyarakat terutama generasi muda terjebak dalam kehidupan hedonisme, mengagungkan seseorang atau kehidupannya sehingga konsep dirinya hilang, serta terbiasa dalam kehidupan yang tercukupi.
Media dan teknologi yang saat ini semakin pesat ikut andil dalam pembentukan kehidupan masyarakat yang hedonisme. Mereka mengenal dan tertarik dengan tokoh yang diidolakan, bahkan dengan fanatisme yang tinggi, apapun dan bagaimanapun kehidupan seseorang yang diidolakan mampu mempengaruhi kehidupan seseorang yang mendewakannya. Berbagai media seperti televisi, media sosial (facebook, twitter, instagram) maupun youtube mampu menghubungkan antara orang yang ditokohkan dan orang yang menokohkan. Hal ini dapat membentuk pola pikir dan mempengaruhi karakter dari orang yang menokohkan untuk mengikuti orang yang diidolakan tersebut.
Saat ini masyarakat juga banyak dihebohkan dengan film-film baru yang sedang tayang. Film remaja dengan khayalan dan kehidupan mewah yang mulai banyak menjadi tontonan dari berbagai kalangan baik orang tua, dewasa, bahkan remaja. Film yang banyak diangkat dari buku-buku, novel, dan karya sastra lainnya mampu menyita perhatian para masyarakat. Sayangnya, tidak semua film dan karya sastra tersebut mendidik. Orang tua yang seharusnya mengedukasi tidak mampu membendung euforia para generasinya dalam melihat tayangan yang terkadang belum sesuai usianya. Film dengan adegan intim, kekerasan, dan sebagainya yang bersifat destruktif banyak beredar di bioskop. Hal ini berasal dari karya sastra yang berupa tulisan.
Dapat dilihat bahwa tulisan memiliki peran penting dalam membangun mindset dan karakter masyarakat. Kenapa saat ini masyarakat berada pada hedonisme? Karena banyak tulisan yang diangkat melalui layar bioskop maupun layar televisi yang dilihat namun berkisah tentang hedonisme. Kenapa saat ini banyak remaja yang saling berkelompok (gengster) dan saling membully? Karena banyak tayangan yang menjadi kiblat para generasi muda. Kenapa kehidupan dulu dan sekarang dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah bisa berbeda? Karena masyarakat dulu dikenalkan dengan perjuangan, bukan dengan khayalan yang seperti saat ini banyak terjadi.
Menulis tidak hanya sekedar memberi hiburan kepada pembaca. Tulisan-tulisan seharusnya mengandung banyak hal positif yang disampaikan oleh penulis seperti pemikiran, ide, gagasan, pengalaman yang dapat ditransfer kepada pembaca. Hal ini dapat digunakan untuk mengkonstruksi karakter positif generasi saat ini. Misalnya tulisan yang tidak hanya berkisah tentang dua orang remaja yang saling jatuh cinta. Tulisan dapat diperluas dengan bercerita tentang pengalaman hidup seseorang, tentang perjuangan hidup seseorang yang bisa menjadi contoh, tentang bagaimana menghadapi masalah dengan positif. Saat ini kita memerlukan tulisan yang menggugah semangat untuk berjuang, bukan terlena dalam kenikmatan duniawi.
Para penulis seharusnya mampu mendidik generasi muda melalui tulisan. Tulisan dengan pesan moral, filosofi kehidupan, dan jauh dari masalah yang didramatisir seperti tayangan drama dan sinetron yang saat ini banyak ditayangkan yang justru menghancurkan konsep diri masyarakat. Para penulis sebenarnya mampu menyampaikan banyak hal yang ada di sekitar lingkungan kita, bahkan pengalaman pribadi untuk belajar tentang kehidupan. Bukan hanya tentang materi, namun menyebarkan kebaikan melalui tulisan.
Dengan adanya oprec FLP wilayah Yogyakarta, ini menandakan adanya hal positif untuk membangun para generasi penulis, belajar bagaimana tulisan memberikan nilai positif bagi pembaca, dan bukan tentang khayalan duniawi yang merusak semata. Belajar menjadi hal penting bagi penulis untuk terus mengembangkan diri dalam mencapai tulisan yang berkualitas. Tulisan yang diarahkan untuk membangun karakter dan pemikiran positif serta sarana dakwah. Dengan adanya FLP wilayah Yogyakarta ini maka juga bisa menyatukan penulis dari berbagai latar belakang, ini artinya akan lebih banyak pengalaman dan kemampuan menulias yang bisa saling dipelajari antara satu penulis dengan penulis lainnya.
Tulisan menjadi sarana dakwah dalam menyampaikan pesan moral ketika penulis sebagai komunikator tidak mampu menyampaikan secara langsung kepada pembaca sebagai komunikan. Tulisan yang mampu merubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik adalah tulisan yang bagus. Hal ini berarti dakwah melalui tulisan berhasil. Tulisan yang tidak menggurui namun menjabarkan dengan bahasa yang santun dapat mengkonstruksi pemikiran menjadi lebih positif, melihat segala permasalahan dari sudut pandang positif dan berfokus pada problem solving.
Dengan semakin banyaknya penulis yang tergabung dalam FLP terutama di Yogyakarta maka semakin banyak potensi yang dimiliki untuk menyediakan bacaan yang positif bagi generasi muda. Semakin banyak penulis yang aktif di FLP maka akan semakin banyak dakwah yang bisa dilakukan melalui tulisan dengan menjangkau seluruh masyarakat dimanapun. Kepedulian para penulis diharapkan dapat memberikan andil dalam memperbaiki karakter generasi muda yang saat ini seperti hilang arah.

http://flpyogya.org

Sabtu, 31 Maret 2018

RESENSI "MUSIM SEMI DI WYOMING"

Novel berjudul “Musim Semi di Wyoming” ini merupakan novel lama yang diterbitkan tahun 2003 oleh Penerbit PT. Syaamil Cipta Media dengan tebal 198 halaman. Novel ini ditulis oleh Nurbaiti dengan nama pena Hikaru (Bercahaya). Hikaru lahir di Depok pada tanggal 8 Mei 1982 dan merupakan anggota Forum Lingkar Pena wilayah Bandung. Karya pertamanya berhasil masuk majalah Annida saat usianya 18 tahun.

Novel ini mengisahkan tentang ke-Islaman dua orang detektif Kepolisian Los Angeles, Larry dan Frank. Akan tetapi jauh sebelum mengenal Islam, keduanya sangat membenci Islam. Bahkan Larry adalah ateis yang memandang bahwa semua agama sama, ritual usang yang hanya sebatas surga neraka, sedangkan Frank selalu berbuat anarkis terhadap hal-hal yang berbau Islam seperti menganggap bahwa semua muslim adalah penghianat dan teroris. Frank juga tak segan-segan membakar Al Qur’an jika melihatnya.

Selama menjadi detektif Kepolisian dan belum mengenal Islam, sepak terjang keduanya mampu memecahkan berbagai masalah kriminal. Kasus terbesar yang dihadapi mereka adalah serangkaian pembunuhan pada beberapa pengusaha dan aparat penegak hukum. Setiap korban pembunuhan menerima ancaman sebelum dibunuh, dan Larry menjadi salah satu orang yang menerima surat ancaman tersebut.

Larry memiliki sifat yang dingin, pendiam, tertutup, namun cerdas. Satu-satunya kelebihan Larry yang tidak dimiliki detektif atau petugas Kepolisian lainnya adalah kemampuan ingatan fotografik, mengingat detail berbagai peristiwa. Berbeda dengan Frank yang cenderung ekspresif, impulsif sehingga sering bertinda ceroboh. Frank dikenal sebagai pribadi yang blak-blakan, cenderung mengungkapkan segala sesuatunya dengan gamblang, termasuk mengenai kesukaan dan ketidaksukaan. Kedua rekan ini saling mengisi dengan berbagai karakter yang mereka miliki.

Sikap dan sifat Larry yang pendiam dan tertutup bukan tanpa sebab. Masa lalunya yang kelam membuatnya menutup diri dari lingkungan. Ketika masa kecilnya, Larry hidup bahagia dan tinggal di Wyoming bersama orang tuanya dengan berbagai kemewahan yang dimilikinya, bahkan ayah Larry, Mr. Watson adalah pengusaha paling kaya ke-3 di New York. Akan tetapi, di tengah-tengah kebahagiaannya Larry kecil harus kehilangan orang tuanya yang meninggal dalam kecelakaan pesawat. Larry kecil melihat langsung mayat kedua orang tuanya yang telah ditemukan. Setelah itu Larry kecil dalam pengasuhan bibinya yang otoriter, Mrs. Lindsay. Pengasuhan yang bertolak belakang dengan orang tuanya yang membuat Larry keci berontak dan menyebabkannya dimasukkan dalam sekolah asrama yang disiplin dengan hukuman fisik jika dianggap membangkan. Berbagai kemampuan harus Larry pelajari dan kuasai sebagai pewaris tunggal perusahaan ayahnya. Akan tetapi Larry memilih meninggalkan perusahaan dan memilih bekerja di Kepolisian, meski ditentang oleh bibinya yang selalu sinis mengenai pekerjaan Larry yang beresiko tinggi.

Sebelum berpartner dengan Frank, Larry memiliki partner dengan Gary. Kasus yang membuatnya hidupnya semakin rumit. Larry berhadapan dengan Steve, yang merupakan adik kandung partnernya . Larry terpaksa membunuh Steve karena merasa terancam, namun inilah yang memicu rasa bersalah besar pada Gary. Terlebih dalam suatu peristiwa, Gary dan Larry mengalami ledakan mobil yang sengaja dilakukan pembunuh. Gary meninggal dan Larry mengalami patah tulang rusuk yang hampir menyobek jantungnya. Luka dalam yang cukup serius itu tidak sebanding dengan dibebaskannya pembunuh Gary. Rasa bersalah besar tidak mampu mengungkapkan identitas pelaku pembunuh Gary, terbunuhnya adik Gary oleh tangannya sendiri, bayangan orang tua yang ditemukan meninggal, kerasnya Mrs. Lindsay dalam mendidik membuatnya sering mengalami gangguan kepala, terlebih karena memiliki ingatan fotografik yang kuat sehingga tidak mampu melupakan berbagai peristiwa buruk yang menimpanya padahal snagat ingin. Hal tersebut membuat Larry ketergantungan dengan obat penenang bersifat narkotik. Bahkan pekerjaan yang dilakukannya hanya sebagai pelarian untuk melupakan ingatan buruk, meski setelah selesai tugas akan teringat kembali berbagai peristiwa buruk yang telah menimpanya.

Larry dikenal sebagai detektif yang cerdas dengan berbagai penghargaan, dan Frank yang menjadi partner Larry setelah Gary sangat bangga. Akan tetapi sikap Larry yang dingin dan tertutup membuat Frank jengah dan akhirnya membujuk Larry untuk berlibur sekaligus terapi di tempat kakak tiri Frank, Julia. Mulai disinilah Larry dengan dukungan Frank, Julia, serta pelayannya yang setia, George untuk menghentikan penggunaan obat penenang yang pernah dikonsumsi Larry karena berbahaya.

Kasus terbesar yang dihadapi Larry dan Frank adalah serangkaian pembunuhan pada beberapa pengusaha dan aparat penegak hukum yang mengantarkannya mengungkap sosok pembunuh dibalik kematian Gary. Sebuah tim yang beranggotakan 2 agen kepolisian yaitu Larry dan Frank, serta anggota FBI, Jim dan Jane dibawah tanggung jawab Larry menanganinya. Kasus tersebut yang membuatnya menerima lima tembakan di kakinya, dan 1 di pelipisnya belum membuahkan hasil, akan tetapi kasus ditutup setelah menganggap sang pembunuh telah meninggal karena ledakan mobil dan masuk jurang. Setelah kasus tersebut ditutup, justru Larry yang menerima surat ancaman. Frank sebagai partnernya pun tidak mempercayainya.

Tembakan yang diterima Larry di kakinya menyebabkan kelumpuhan, namun tidak ada yang berani memberitahu bahwa kenyataan sesungguhnya pada Larry. Hal yang dapat mereka lakukan hanyalah menyemangatinya, dan ketika keluar dari rumah sakit Larry harus bekerja di belakang meja. Ketika semua staf Kepolisian sepakat untuk tidak menyinggung kelumpuhan Larry, satu orang anggota yang merasa tidak suka, Craig, sengaja membocorkan apa yang dialami Larry, dan baru Larry menyadarinya.

Konflik baru mulai menyeruak. Larry merasa sedih, kecewa, marah, dan berbagai emosional lainnya dengan semua yang dikenalnya di Kepolisian yang menyembunyikan rahasia, terutama Frank. Dia merasa hina dan direndahkan, bahwa kelumpuhannya membuat orang kasihan padanya. Jika konflik-konflik sebelumnya Larry mampu menghadapi dan survive, namun tidak kali ini. Perasaan denial, penolakan bahwa kini berakhir di kursi roda selalu membuat Larry merasa perlu membuktikan 0bahwa ia seperti dulu, yang kuat, tangguh, dan dapat diandalkan dimanapun. Perasaan tidak nyaman dan direndahkan membuat Larry mengundurkan diri dari Kepolisian. Ia merasa harus mencari sesuatu untuk mengobati luka-lukanya, luka hatinya. Ia kembali ke Wyoming dan mulai tinggal di rumahnya.

Satu minggu kemudian Larry dan George mengunjungi New York, dan disanalah ia mulai mengenal Islam. Ketidaksengajaannya melihat mantan anggota timnya terdahulu, Mary Olson, membuatnya penasaran dengan penampilan barunya, dan tepat pada hari Jumat ia melihat sebuah bangunan dimana Mary masuk sebuah Islamic Center. Khutbah Jumat membuatnya tertarik dengan Islam meski masih mendengarkan dari kejauhan. Ia merasa menemukan apa yang selama ini dia cari, penjelasan tentang keadilan, surga negara, alasan kenapa ia dilahirkan di dunia yang dulu dikutuknya merasa mendapat jawaban. Hingga akhirnya syahadat di Islamic Center tersebut menjadi pertanda Larry resmi seorang muslim.

Meskipun ke-Islamannya masih menjadi pertentangan dari berbagai orang yang dicintainya, seperti Frank dan Mrs. Lindsay, namun Larry selalu mendoakan kelak mereka akan menyusul menjadi muslim. Dalam perjalanan mualafnya, ia mulai kembali diteror oleh pembunuh dan harus kembali menjadi anggota Kepolisian untuk menangkapnya. Pada akhirnya, pembunuh semua pengusaha, termasuk Gary, partnernya, dapat ditangkap. Pembunuh yang merupakan seorang psikopat, Scot, yang memiliki kelainan jiwa dan sangat menyukai melihat kematian korban-korbannya. Motifnya adalah semua yang menjadi korbannya adalah pem-bully di masa sekolahnya yang akhirnya menanamkan dendam. Scot telah menjadi tahanan rumah sakit jiwa selama lima tahun dan berhasil kabur, sejak saat itulah ia merupakan pembunuh berdarah dingin. Larry meninggal 2 minggu kemudian setelah menikah dengan Mary karena sakit kanker otak, juga kecelakaan yang disengaja oleh agen FBI yang anti Islam. Kepergiannya meninggalkan wasiat untuk menikah dengan Mary dan mewariskan sebagian kekayaannya.

Minggu, 11 Maret 2018

BELAJAR MERASA

Sebuah keberuntungan ketika kita mampu "mengenal" orang lain. Dari kekurangan dan kelebihan orang lain, akan mengajarkan bagaimana bersyukur dengan kekurangan, belajar mengendalikan diri dengan setiap kelebihan, bahkan diam dengan segala ketidaksenangan.

Alloh mengajarkan setiap kebaikan melalui setiap hambaNya, jika kita mau peka. Bahkan tidak hanya manusia, setiap nyawa di sekeliling kita pun dapat menjadi pembelajaran. Pertanyaannya adalah, kita mau atau tidak. Jika kita apatis terhadap segala sesuatu, bagaimana kita bisa belajar? Bagaimana kita bisa mengambil hikmah?

Kembali pada pembelajaran, hari ini belajar hidup dari penulis senior, Mbak Safrina Rovasita, dan dengan cerebal palsy-nya namun mampu membuktikan sebagai salah satu perempuan tangguh yang kukenal. Menjadi inspirasi bahwa setiap manusia tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain karena setiap nyawa diciptakan dengan kekurangan diantara kelebihan. Jadi bersyukurlah dengan segala rasa, nikmati hidup dengan segala makna.

Selasa, 13 Februari 2018

WAHAI AYAH, PINJAMKAN HATIMU

Jauh darimu, membuatku harus belajar dewasa.
Bahkan saat banyak masalah menghantam, aku tidak berani untuk bercerita kepadamu
Itu karena, hatimu selama ini telah banyak menjagaku
Aku hanya belajar, bagaimana hatiku agar bisa sekuat hatimu, Ayah.
Aku hanya membayangkan bagaimana tangguhnya hatimu untuk

Jika saatnya engkau pergi, aku akan mengenangmu sebagai lelaki terhebat
Lelaki yang telah membesarkanku
Lelaki yang mengajarkan untuk selalu tangguh, bahkan sebagai seorang perempuan
Semoga dalam perjalanan hidupku, aku menorehkan jejak seperti dirimu
Sebagai sosok yang kuat dengan hatinya

Ayah, selalu lah menunggu kepulanganku
Selalu lah menjadi penghibur saat resahku
Wahai lelaki dimana aku banyak belajar
Pinjamkan hatimu untukku
Agar selalu kuat dan tangguh
Selalu bersabar dan bersyukur
Akan kerasnya hidup yang telah, dan akan kujalani

Jumat, 02 Februari 2018

PENTINGNYA ADAB DAN AKHLAK

Apa yang penting bagimu dalam hidup ini? Harta? Istri? Anak? Pintar dan cerdas?
Apa yang kita ajarkan pada anak-anak, pada generasi kita? Pentingnya harta? Karir yang sukses? Rumah dan mobil?

Hal sederhana namun sangat banyak terlewat adalah adab dan akhlak. Sebelum kita diajarkan suatu ilmu, yang paling penting adalah adab. Tujuan utama diutudsnya Rasul adalah menyempurnakan akhlak. Apa yang terjadi jika orang pintar namun tanpa adab dan akhlak? Kehancuran. Kerusakan. Konflik.

Maka yang kita ajarkan pada generasi adalah tentang hal itu. Mengajari anak mengucapkan terima kasih, apapun yang diterima. Ini mengajari anak untuk bersyukur.
Mengajari meminta maaf, ini mengajarkan bahwa setiap manusia tidaklah sempurna dan dengan adab itu anak akan dikenalkan pada menjauhkan dari kesombongan.
Mengajari adab berinteraksi dengan orang lain, mengajari kebaikan-kebaikan.

Di balik itu semua, diiringi dengan doa.